Kumpulan Cerita Fiksi Karya Bunda Iin

Tuesday, 15 May 2012

Kematian Takkan Bisa Merampas Cinta

Tak ada jawaban ketika aku mengetuk pintu kamar Fani, meski sudah berulang kali dan hampir membuat buku-buku jariku sakit semua. Aku menyerah, tapi tatapan mata memohon Tante Siska mengurungkan niatku. Aku kembali mengetuknya.

“Siapa sih? Berisik! Kalau mau masuk, ya masuk saja!” Akhirnya terdengar juga jawabannya. Dengan senyum lebar, aku membuka pintu kamar sepupuku itu.

Astaghfirullah al adzim!! Ini kamar apa kapal pecah? Aku terperangah menatap seantero kamar. Pantas saja Tante Siska panik tadi saat meneleponku, pantas saja kalau melihat perubahan 180 derajat kamar Fani seperti itu aku bisa memahami apa yang dikuatirkan Tante. Pakaian, buku, gelas bekas minuman, cd dan berbagai barang berserakan di lantai kamar, belum lagi tempat tidur yang berantakan. Benar-benar mirip kapal pecah. Mana kamar ini juga gelap dan ehem… bau.

Kupindahkan baju kaos putih lusuh ke pinggir agar bisa berdiri dengan baik di dekat televisi. Kucari sepupuku itu. Ternyata dia sedang duduk melamun di balkon kamarnya. Sambil menyingkirkan beberapa benda yang menghalangi langkahku, akhirnya aku sampai juga di balkon.

“Gila, baru kali ini aku melewati kamarmu kayak lagi mendaki gunung aja! Berantakan amat sih neng!” keluhku sambil menghempaskan tubuh ke kursi lain yang kosong di dekat Fani.

Fani tak menjawab, dia bahkan tak menoleh. Aaah, bingung juga memikirkan apa yang harus kukatakan padanya. Akupun mengeluarkan sebatang rokok dari kantong baju. Sudah hampir patah. Sejak “dipaksa” Papa berhenti merokok, aku memang hanya menyimpan satu batang di kantong. Bukan untuk merokok, tapi sekedar memegang sampai aku bisa benar-benar berhenti nanti. Aku perlu batang rokok itu sebagai cara agar bisa berpikir. Rokok itu kupilin-pilin di jemariku, menyibukkan tangan dan mencari bahan pembicaraan.

“Entah berapa kali aku mau lompat dari balkon ini, Li! Tapi selalu tidaak jadi,” kata-kata Fani meluncur tanpa kusangka. Kaget. Tapi aku berusaha tetap santai, meski batang rokok itu semakin cepat bermain di tanganku.

“Terus kenapa tidak jadi?” tanyaku. Aaah, sekarang aku menyesal. Dasar bego! Kenapa aku bicara begitu? Bagaimana kalau dia berpikir aku menyuruhnya melakukan itu? Wah, aku bisa dibunuh sama Tante Siska.

Fani melirikku lalu tersenyum, “Begini-begini aku takut dosa juga, Li! Lagian kasihan Mama kalau tinggal sendiri. Aku tak tega ninggalin Mama sendiri.”

Dengan gaya sok benar, aku mengangguk-angguk. “Baguslah, aku kira kamu sudah kehilangan otakmu yang cerdas itu. Trus kenapa kamu begini terus? Mamamu tuh, dia bingung menghadapimu.”

Mata Fani tampak kosong dan menerawang jauh.”Aku juga bingung harus bagaimana. Aku hidup tapi jiwaku mati. Mati bersama Papa, Li. Benar-benar sudah mati!”

Aku terdiam.

“Bagaimana aku mau kerja? Tiap kali pakai baju kerja, aku ingat tiap pagi Papalah yang mengantarkanku kerja. Sepanjang jalan kami selalu bicara tentang banyak hal. Tiada hari tanpa ingat kalau tiap makan siang, Papa selalu menelponku sekedar mengingatkan. Aku mau nonton tipi, tapi yang kuingat hanyalah saat aku nonton pertandingan bola kesukaan kami. Makan kacang dan minum sirup sampai diomelin Mama karena begadang tengah malam dan berisik tiap kali gol. Mau dengerin musik, aku malah ingat Papa yang suka banget sama lagu-lagu dangdut. Mau sholat, aku ingat kalau dulu setiap malam Papalah imamku selama ini. Bahkan melihat nasi saja, aku ingat nasi goreng buatan Papa. Semuanya Papa, Papa, Papa. Bagaimana aku bisa hidup lagi, Li? Aku tak bisa melupakan bayangan Papa. Sampai hari ini pun aku masih belum bisa nerima ini.”

Airmata Fani mengalir lagi. Aku masih membisu. Benar-benar kehilangan kata-kata yang tadi kusiapkan. Kesedihan Fani memang wajar. Sebagai putri tunggal, ia sangat dekat dengan Papanya. Sayangnya, beberapa waktu lalu serangan jantung merenggut nyawa sang Papa. Kepergiannya sudah satu bulan, tapi Fani masih menangisinya hingga saat ini. Ia mengalami depresi. Depresi yang mulai menakuti Mamanya dan sekarang juga aku. Fani benar-benar berubah. Kami tak pernah lagi melihat senyum di bibirnya, apalagi candanya yang dulu selalu membuat rumah ini ramai. Rumah ini seakan ikut redup bersama kematian Papa Fani.

“Sakit rasanya Papa dirampas seperti ini, benar-benar tak adil buatku. Tiap malem aku selalu berharap langit terbelah dan Papa turun dari surga dan bilang kalau dia hanya bercanda. Aku tak bisa melupakan kejadian hari itu, Li. Aku ingat bagaimana senyum lebar Papa tiba-tiba langsung berganti jadi kesakitan. Semuanya dirampas dariku dalam hitungan detik. Aku tak bisa, aku benar-benar tak bisa melupakan Papa. Aku rindu sekali padanya, Li. Papa sangat sehat hari itu, sangat sehat, semuanya tak ada yang berbeda, semuanya sama seperti biasa, lalu dalam sekejap… ” suara Fani menghilang diantara sedu sedannya. Tangannya gemetar menepuk dada berulang kali, sesak mengingat sang Papa yang telah tiada. Pelan namun benar-benar membuatku paham betapa menyakitkan bagi dirinya kehilangan Papanya. Satu-satunya yang kulakukan akhirnya bangkit dan memeluk sepupuku yang sudah kuanggap seperti adik kandungku itu.

“Aku tahu, kau pasti mau bilang… Papa sudah tenang di sana. Tapi aku… aku yang tak bisa hidup lagi. Papa membawa separuh jiwaku, separuh hidupku. Papa itu hidupku, Li. Huhuhu….. ” Fani terus mengisak dan mengeluh di pelukanku. Aku berusaha tidak menangis, tapi tak urung mataku ikut berkaca-kaca merasakan kesedihannya.

“Sudah, de. Sudah ya. Tenanglah! Kalau memang kamu ingin menangis, menangislah. Luapin seluruh emosimu, jangan ditahan-tahan lagi!” bisikku. Dan tangis Fani semakin nyaring, pecah di dadaku. Samar kulihat di dekat pintu keluar kamar Tante Siska juga sedang menangis diam-diam. Ia tampak sama terlukanya seperti Fani. Dua perempuan ini benar-benar kehilangan pegangan mereka, kapal mereka benar-benar sangat oleng saat ini. Ya Tuhan, biarkan aku memperbaikinya.

Aku tak bisa bicara malam itu dan hanya membiarkan Fani menangis hingga tidur kelelahan. Tante Siska sangat berterima kasih padaku karena mau meluangkan waktu kerjaku untuk menjenguk Fani. Selain dengan Papanya, akulah sepupunya yang paling dekat. Sebenarnya sepupu kami banyak, tapi aku dan Fani itu satu kantor dan kami hampir terlalu sering bersama sejak kecil karena Papa adalah kakak kembar Tante Siska. Apalagi kami juga sama-sama anak tunggal dan sekarangpun nasib kami sama. Hanya bedanya aku kehilangan Mama saat masih bayi dan Papa menikah lagi ketika aku masuk TK hingga aku hampir tak merasakan kehilangan seperti dirinya. Apalagi hubunganku dengan Ibu tiriku juga sangat baik.

“Ali, tadi gimana kondisi Fani?” tanya Ibu saat makan malam.

“Parah, Bu. Dia bener-bener berubah banget!” jawabku seadanya.

Tatapan mata Ibu jadi murung mendengar jawabanku. Namun ia tak bicara lagi dan sibuk melayani Papa. Sambil memperhatikan keduanya, aku mulai makan. Pikiranku melayang kemana-mana. Berusaha mencari solusi bagaimana bicara agar Fani keluar dari depresinya itu.

“Pa, waktu Papa kehilangan Mama dulu apa seperti Fani?” tanyaku tiba-tiba. Sendok Papa langsung terhenti. Secara otomatis ia menoleh pada Ibu yang juga menatapku bingung. “Aduh, maaf Bu. Ali hanya ingin cari cara buat menyembuhkan Fani. Maaf,” sergahku cepat melihat delikan mata Papa.

Ibu tersenyum. “Tak apa-apa, Li. Tanya saja sama Papa. Mungkin bisa ketemu jalan keluarnya.” Dengan penuh pengertian, Ibu menatap Papa dan mengangguk.

Meski terlihat tidak enak, Papa mau juga mengatakan sesuatu yang membuat mataku terbuka lebar. Aku baru menyadari bahwa Papa sangat mencintai Mama dan bahkan hingga kini menurut Papa, meski juga sangat mencintai Ibu tapi buat Papa selalu ada cinta untuk Mama yang takkan pernah ia lupakan. Papa membuatku memahami makna cinta dan kematian dalam kata-kata sederhana yang sangat dalam. Cinta itu takkan bisa dipisahkan oleh kematian.

Tanpa membuang waktu, esok harinya aku kembali berkunjung ke rumah Fani. Tante Siska kaget sekaligus senang saat membukakan pintu. Kali ini aku langsung masuk ke kamar sepupuku itu. Kamar Fani memang agak rapi sedikit dari kemarin, tapi lagi-lagi aku menemukannya di balkon. Aku mencari-cari di dalam lemari pakaian Fani dan menemukan yang kucari, baru kudekati dia.

"Fan, sholat dhuhur yuk! Udah lama kamu tak sholat kan? Aku jadi imammu deh!” kataku tak peduli melihat apannya sambil menyodorkan mukena, benda yang tadi kucari-cari.

“Kamu aja, aku gak mau!” jawab Fani, kembali bertopang dagu menatap kosong entah ke mana. “Buat apa sholat? Papa aja diambil dariku.”

Aku menghela nafas. “Kamu gak cinta sama Papamu, Fan?”

“Pake nanya, iya iya iya iya…. aku cinta banget sama Papa. kalau tidak karena apa aku jadi kayak orang gila begini? Kamu jahat banget sih, Li!” pekik Fani marah.

“Kalau begitu kenapa kamu begini?” Sinar mata Fani membara antara marah dan bingung. Aku tak peduli, aku hanya ingin dia sembuh.

“Cinta memang tak bisa menghentikan perpisahan, apalagi kematian. Tapi Fan, cinta itu kalau memang benar-benar kamu rasakan di dalam hatimu, takkan bisa membuat kamu melupakan Papamu. Kematian tak bisa merampas cinta dari hatimu. Sampai kamu menyusul Papamu di akheratpun, cinta itu tak bakal mati kecuali kamu sendiri yang membunuhnya. Cinta itu kuat dan sanggup bertahan lebih dari kematian. Umurnya lebih panjang daripada kehilangan.” Kata-kataku membuat Fani terdiam dan mencernanya.

“Kalau kamu begini terus, apa gunanya cinta yang kamu rasakan itu? Bertahun-tahun dari kamu kecil, Papamu berusaha keras mengajarimu tentang dicinta dan mencintai. Dia ingin kamu merasakan apa yang dia rasakan. Dia mengajarkan semua kebaikan cinta buat kamu. Buat apa, Fan? Supaya kamu tahu kalau cinta itu indah, dan Papamu ingin kamu menikmati keindahannya lalu hidup bahagia. Papamu pasti tahu itu. Dia tahu, cinta itu takkan pernah mati, hatimu dan Mamamu pasti akan tetap mengenang cinta yang diberikan Papamu. Tak ada yang bisa buat cinta itu mati kecuali kamu tak mau bangkit dan hidup seperti ini. Ayo, Fan! Bangun dari tidurmu! Cintai Papamu seperti dulu. Cintai dia dengan mendoakannya agar bahagia dia di sisi Allah. Ingat, Fan! Doa anak soleha adalah pengantar langkah orangtua mereka ke surga. Kalau kamu cinta Papamu, cintailah Allah terlebih dulu. Hiduplah demi cinta itu. Kamu takkan bisa mempertahankan cinta itu kalau kamu melupakan semua yang diajarkan oleh Papamu. Buktikan kalau karena mencintai Papamulah, kamu bisa mewarnai dunia dengan indah. Lebih bagus kalau kamu juga bisa membagi cinta itu sama orang lain, sama orang-orang di sekitarmu. Agar Papamu bahagia di sana. Kamu tak benar-benar sayang Papamu kan? Apa kamu tidak mau doakan dia? Apa kamu mau jadi anak yang jahat setelah semua cinta yang ditinggalkan Papamu, Fan?” cecarku.

Bibir Fani bergetar dan ia menangis. Tangisnya tak bersuara, hanya terisak. Tapi ia mengangguk-angguk, memahami kata-kata yang kucopy paste dari papa itu dan perlahan Fani mengambil mukena yang kupegang. Ia memeluknya di dada dan berbisik berulang kali. “Maafin Fani, Pa! Maaf, Papa sayang.” Dengan langkah pelan, ia bangkit. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa membuatnya kembali beribadah. Kembali menjadi Fani yang dulu.

Itu terakhir kali aku melihat Fani duduk merenung di balkon kamarnya. Hari-hari selanjutnya, seiring waktu Fani mulai bisa menghadapi kesedihannya. Aku tahu itu tak mudah baginya, tapi Fani “melarikan” kesedihannya melalui berbagai kegiatan. Ia mulai mengikuti beberapa kegiatan yang dulu tak pernah diminatinya dan yang paling penting, ia semakin dekat dengan Allah. Ia tak lagi menghabiskan waktu melamun atau berkurung diri sia-sia. Ia memilih mengajak Mamanya terlibat dalam sebuah yayasan anak cacat dan terkadang menjadi volunteer di sana. Aku senang, sepupuku sudah kembali. Ia melanjutkan lukisan kehidupan yang dulu dipenuhi oleh Papanya, ia mewarnai dunianya dengan hati dan cinta yang takkan bisa dirampas oleh siapapun lagi.

&&&&&&&
Read More

Tuesday, 1 May 2012

Pesan Dari Syam


Dengan lembut aku menggenggam tangan yang terkulai itu lalu menciumnya lembut. Seakan menyadari kehadiranku, ia membuka matanya dan tersenyum tipis. “Sudah datang, Nur?” kuanggukkan kepala dan dia menatapku penuh rindu. Tak ada suara, hanya semilir angin sepoi-sepoi melalui jendela yang mengisi kamar kecil tempat wanita tua itu terbaring, namun seketika mengembalikan seluruh ingatanku tentangnya, tentang wanita tua yang kini terbaring di tempat tidur itu.

“Jangan pernah berhenti berusaha, karena manusia yang berhenti berusaha dan putus asa takkan pernah memenangkan atau mendapatkan apapun.” Itu pesan pertama yang dia katakan saat aku masih duduk di kelas lima SD, ketika aku menangis karena tak mampu mengerjakan tugas sekolah. Tangisku makin kencang, dan ia sama sekali tak membantuku. Namun kuingat malam itu, wanita tua itu duduk di belakangku sepanjang malam sampai kuselesaikan tugasku itu. Lalu sambil terisak, aku memperlihatkan catatan padanya. Dia tak mengkoreksi ataupun melihatnya, hanya tersenyum dan kembali berkata, “nah kan kalau diusahakan pasti bisa. Di dunia ini gak ada orang bodoh, sayang. Yang ada hanyalah orang malas. Lain kali kerjakan tugasmu dulu baru main.”

Aku memang menghabiskan setahun bersama. Setahun melanglang banyak tempat bersama wanita tua yang bernama Syam. Aku sayang padanya dan memilih tinggal bersamanya. Syam berbeda dengan orangtuaku yang sangat memanjakanku. Dia membesarkanku dengan cara yang sungguh-sungguh berbeda. Aku menemukan banyak hal baru saat bersamanya, bahkan hingga dewasa banyak pesannya yang membuatku tetap tangguh menghadapi dunia.

Tangannya selalu bergetar sejak Parkinson menyerangnya. Langkahnya tertatih saat berjalan dan tubuhnya yang rapuh seakan menunjukkan betapa lemahnya dia. Tapi tidak semangatnya. Meski kelihatan selalu lelah, kakinya tak pernah berhenti melangkah. Ia tak pernah absen mengajar meski tangannya harus bertumpu pada pundakku saat pergi ke sekolah. Ia tak pernah lupa mendatangi secara rutin semua anaknya yang tinggal dalam satu kota meski baru saja berkurang sakit kepala yang menyerangnya. Aku tak pernah paham mengapa ia begitu penuh semangat sementara aku sendiri saja sering merasa lelah.

“Kenapa harus jalan terus sih? Nur capek nih!” keluhku suatu hari.

Ia mengelus kepalaku sambil tersenyum. “Kewajiban seseorang itu salah satunya ya ini, Nur. Menjaga silaturahmi keluarga. Saling mengunjungi dan saling membantu jika diperlukan. Apalagi jika kau seorang Ibu, anak-anak takkan pernah berhenti meminta tolong bahkan setelah mereka menikah. “

Kala libur dan ia benar-benar sedang tak sanggup lagi berjalan, ia menghabiskan waktu di depan rumah. Dengan mata menerawang jauh menembus birunya awan, ia akan mulai mengenang sebuah cerita yang kerap diulang-ulangnya padaku. Kisah tentang seorang wanita pejuang bernama Syam.

Syam, seorang gadis yang dilahirkan dengan feodalisme yang begitu kental. Kakeknya seorang patih gagah berani yang sudah melanglang negeri hingga ke Belanda, kedigdayaan sang Patih begitu disegani kawan maupun lawan. Bahkan menurut kisahnya itu, kekuatan sang Patih sanggup membalik sebuah kapal perang. Dan Syam sangat bangga pada sang Kakek. Kakeknya pula yang membuka mata dan pandangan Syam tentang dunia. Semangatnya dan prinsip hidup sang Kakek yang membuat Syam muda ingin sekali seperti beliau, ingin menjadi seorang pejuang negara dan wanita yang bebas.

Syam membuktikan ucapannya. Ia menjadi perawat saat perang melawan Penjajah Belanda untuk para tentara Indonesia. Lalu ketika Jepang datang, Syam menjadi seorang pemekik tanda perang saat meletus perang dahsyat melawan Jepang. Keberhasilan para tentara itu terbukti dengan tenggelamnya sebuah kapal di tengah-tengah sungai yang memisahkan Bulungan dan Tg. Palas.

Saat itu aku mengira wanita tua itu sedang berkisah tentang legenda dongeng walaupun setiap kali selesai bercerita ia selalu mengakhirinya dengan lantunan lagu-lagu Belanda bahkan lagu kebangsaan Jepang yang terkenal itu, Kimigayo. Sampai bosan telingaku mendengarnya, tapi kalau melihat kebahagiaan yang terpancar di wajahnya yang berkeriput, aku memilih untuk diam dan mendengarkan dengan seksama.

Di lain hari ia bercerita tentang hidupnya yang nyata tanpa sadar. Ketika menonton televisi dan menayangkan sebuah kota, tanpa sadar ia bercerita kalau ia pernah ke sana dan mengalirlah semuanya. Ia dengan riang bercerita tentang berbagai hal menarik yang pernah ia temui di sana.

Lama baru aku mengerti, kisah-kisah yang diceritakannya bukanlah dongeng. Ia memang seorang pejuang kemerdekaan, meski akhirnya Orde Baru mempetieskan prestasinya karena sesuatu hal. Ketika kutanya mengapa ia membiarkan, ia hanya tersenyum dan berkata, “saat itu saya hanya ingin mewujudkan cita-cita menjadi seorang Indonesia yang merdeka dan membuktikan kalau saya adalah seorang rakyat Indonesia yang mencintai negerinya. Bukan untuk sebuah gelar, apalagi untuk dipamerkan. Untuk apa mempertanyakan apa yang negara berikan buat kita, tanyalah apa yang kita berikan buat negara?”

Dan akupun sama seperti yang lain, diam dan hanya bisa termangu mendengarkan.

Syam, seorang pejuang yang meneruskan perjuangannya dengan menjadi seorang guru. Pekerjaan yang tak pernah ia tinggalkan bahkan ketika sakit parah menyerangnya. Pekerjaan yang demikian ia cintai, hingga setiap kali aku pulang ke kampung halaman menengoknya maka setiap orang yang mengenalnya pasti mengingatkan aku betapa Syam telah menjadi guru tak cuma di ingatan tapi juga di hati mantan murid-muridnya. Meski akhirnya pekerjaan menjadi guru itu membawanya menjadi salah satu anggota DPRD, dan kemudian membuatnya bisa berkeliling daerah, ia tak pernah menghilangkan cintanya pada profesi guru. Ia bahkan bilang “Menjadi Guru membuat kita tak hanya akan diingat, tapi juga dihargai sepanjang hidup seseorang.“

Aku bangga pada Syam, karena bukan hanya itu yang ia lakukan sepanjang hidupnya. Ia membesarkan 12 orang anaknya bersama beberapa keponakannya yang lain. Di tangannya, ia berhasil mencetak para pejabat negara yang akhirnya terjun membangun kota kecil tempatnya dilahirkan. Salah satunya bahkan menjadi pemimpin daerah selama dua kali pemilihan. Syam pasti bangga kalau saja ia tahu bahwa semua perjuangannya telah berbuah.

Namun ketika kusinggung tentang masa-masa hidupnya kala aktif sebagai seorang wakil rakyat, justru mendung di matanya yang kulihat tergambar jelas di sana. “Politik itu adalah candu, candu yang nikmat namun kalau berlebihan itu akan menghancurkan hidup seseorang.” Dan aku tetap tak pernah memahami, hingga sempat memilih untuk meneruskan pendidikan ke bidang politik. Syam murka. Ia memintaku memilih bidang lain. Saat itu melalui telepon, Syam memintaku melupakan keinginanku itu. Aku tak pernah mengerti kenapa, namun karena rasa cinta dan hormat pada wanita tua itu aku menuruti keinginannya.

“Kau memiliki kemampuan berbicara dan menulis dengan baik, kemampuan yang sangat diperlukan untuk terjun ke dunia politik. Tapi ingatlah satu hal, sayangku, pemimpin seorang perempuan tetaplah laki-laki. Tangan perempuan hanya ada dua dan kodratnya dia makhluk yang lemah dibandingkan laki-laki, dan ia tak bisa memikul beban menjadi tiga atau empat. Pilihlah apa yang menjadi kodratmu di tangan yang paling kuat dan genggamlah cita-cita yang paling mulia di tangan yang lain. Politik itu kejam dan menghancurkan, bahkan seorang perempuan paling baik di dunia bisa berubah menjadi seorang setan yang jahat. ” Itu penjelasannya suatu ketika saat aku bertemu langsung padanya dan bertanya mengapa ia melarangku memilih dunia politik.

Akhirnya karena Syam, aku memilih dua hal yang menurutku itulah yang terbaik. Aku berhasil mendapatkan sesuatu yang kutahu tak pernah dimiliki Syam. Syam tak pernah berhenti menyesali perpisahannya dengan suami tercinta dan aku bersyukur Syam mengajarkanku untuk mempertahankannya.

Syam, wanita tua itu selalu memberiku semangat saat rumah tanggaku goyah dengan berbisik penuh makna. ”Penderitaan itu adalah bumbu kebahagiaan, takkan ada rasa yang nikmat saat mencicip kebahagiaan jika kita tak pernah merasakan penderitaan. Setiap kali kau menderita, ingatlah itu baru satu hari dan kenanglah 100 harimu yang bahagia. Begitu terus setiap kali kau menderita dan deritamu takkan lagi terasa lama. Justru saat bahagia itu datang maka kau akan sangat menghargai dan merekamnya dengan baik dalam ingatan.”

Suara helaan nafas Syam membuatku kembali menjejak dunia nyata. “Mana suamimu, nak?” tanyanya lembut. Aku menoleh ke belakang dan memperkenalkan suamiku padanya. “Ini nek, ini suami Nur,” bisikku pelan. Dia tersenyum, menyalami suamiku yang langsung mencium tangannya dengan hormat. Aku meninggalkannya bersama suamiku untuk mengobrol berdua dan berharap nenekku tak menceritakan tingkah konyolku saat masih kecil dulu.

Dari balik pintu, tanpa sengaja telingaku menangkap kata-katanya saat berbicara dengan suamiku.

“Nur adalah cucu kesayanganku, dia sangat mirip saya dan saya sangat tahu jalan pikirannya. Jagalah dia baik-baik. Karena dia menyerahkan seluruh dunia yang bisa dimilikinya untuk kamu. Kamu harus bisa menghargainya dan dia pasti jadi istri paling patuh yang kau miliki.” Aku tak bisa menahan tetesan airmata berjatuhan setelah mendengar itu. Apalagi sesaat kemudian, ia juga berkata pada kami berdua. “Untuk meminta maaf itu memang sulit sekali, tapi menunggu maaf jauh lebih sulit. Jadi kalau kalian berdua merasa berbuat salah, jangan malu meminta maaf karena itu jauh lebih mudah dibandingkan menunggu maaf.”

Itu pesan terakhir Syam yang kudengar. Setahun sebelum akhirnya ia menutup matanya tanpa kehadiranku. Saat itu aku menangis di kantor, sendirian di dalam toilet. Hari itu aku harus tetap terbang, menghadiri sebuah tender meeting yang tak bisa kutinggalkan. Lidahku terasa kelu saat harus berbicara di depan umum, tapi aku berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik meski setelah itu aku menangis berjam-jam, menyesal karena tak bisa datang untuk melihat Syam. Bahkan kata-kata suamiku yang mengingatkanku tentang pesan Syam tak bisa menghilangkan penyesalan itu, “Nenek pasti ngerti, sayang. Dia pasti lebih suka begini daripada kau datang dan kehilangan kesempatan memenangkan tender dimana banyak orang bergantung pada hasilnya.”

Syam sudah tiada, lama sekali. Sebelum aku sempat berkata padanya kalau aku selalu mengingat semua pesannya. Syam membuatku memahami banyak hal, dan aku ingin menulari semua itu pada semua orang yang kusayangi. Syam memang sudah tiada, tapi semangat juangnya selalu ada di hatiku hingga kini. Penyesalan Syam adalah pelajaranku yang paling penting. Pesan Syam akan selalu kuingat di sepanjang hidupku.

*****
Read More

Sunday, 29 April 2012

I Wanna Be Emak - Arti Tangis Ayah

Semua sedang berkumpul di ruang keluarga, sementara Emak dan Kakak berada di dapur menyiapkan cemilan, pisang goreng tepung untuk keluarga. Karena ruang keluarga berada tepat di samping dapur, maka obrolan Ayah dan Abang terdengar juga oleh Emak dan Kakak.

Ayah sedang menasehati Abang yang baru saja berhenti menangis. Ayah berusaha mengalihkan perhatian si abang yang masih marah karena lututnya terbentur mobil-mobilan yang sedang ditumpangi Ade. Sambil membujuk Abang yang masih sesegukan, Ayahpun berkata menyombongkan diri. “Coba Abang meniru Ayah. Ayah nih, gak pernah nangis kan? Waktu kecil juga Ayah gak cengeng. Apalagi anak cowok, gak boleh gampang nangis. Anak cowok harus tangguh, harus kuat dan gak cengeng. Apalagi anaknya Ayah!” Tangan Ayah menepuk-nepuk bahu Abang. Abang menatap Ayah.

“Ayah bohong! Ayah juga pernah nangis kok!” sergah si Abang dengan nada tinggi.

Ayah menatap Abang bingung, tapi Ayah tak mau kalah. “Eeh… Siapa yang bilang?”

“Nenek, nenek yang bilang. Kak! Kakak! Nenek bilang dulu Ayah pernah menangis kan?” Abang berteriak memanggil kakaknya, mencari bantuan memenangkan perdebatan. Kakak yang baru selesai menyiapkan piring, langsung pergi menghampiri Abang dan mengangguk.

Emak tertawa kecil, namun tak seperti kakak yang langsung bergabung dengan Abang dan Ayah. Emak tetap melanjutkan memotong-motong pisang meskipun telinga Emak ikut mendengarkan.

“Iya, yah. Kata Nenek waktu Emak melahirkan kakak, Ayah menangis karena Emak gak keluar-keluar dari ruang operasi. Trus waktu Emak dioperasi melahirkan Abang, Ayah juga menangis waktu dikasih lihat lewat jendela kan? Kakak masih ingat soalnya waktu itu Ayah sambil gendong kakak.”

Ayah terdiam. Tangan Emak berhenti bergerak. Hanya terdengar gelak tawa Abang dan Kakak menertawakan Ayah yang kalah telak dalam perdebatan itu. Tapi itu bukan hal lucu buat Emak.

Ayah sama sekali tidak kalah, buat Emak justru Ayah sedang menang. Ayah sekali lagi, dengan cara yang tak pernah disangka Emak membuktikan cintanya pada Emak dan anak-anak. Dan Emak tak bisa menahan airmatanya, setitik airmata jatuh membasahi tangan Emak. Cepat-cepat Emak menghapusnya

Meskipun anak-anak tak menyadari, Emak terharu. Emak baru tahu, lelaki sekuat dan setangguh Ayahpun pernah menangis. Tangis Ayah pasti karena saat itu berdoa untuk Emak yang sedang berjuang dalam hidup dan mati, dan Emak senang karena berarti Ayah benar-benar menghargai perjuangan itu.

Saat membawa sepiring pisang goreng ke ruang keluarga, Emak mendengar Ayah masih berusaha menjelaskan pada anak-anak. “Tangis ayah saat itu karena ayah sedang memohon pada Allah, supaya orang-orang yang ayah sayangi diberi kekuatan dan keselamatan. Tangis itu adalah tangis seseorang yang merasa tak mampu selain menyerahkan pada keputusan Allah. Aah, kalian ini curang… Ayah menangis bukan karena Ayah cengeng. Tapi karena Ayah sedang bersungguh-sungguh berdoa.”

“Sekalinya nangis, ya tetap saja menangis, Ayaah.” Anak-anak tetap ngotot mempertahankan. Tak bergeming.

Ayah menyerah. Tanpa sengaja Ayah menoleh pada Emak. Tatapan Ayah bertemu mata Emak. Emak tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Dan ketika anak-anak sibuk memakan pisang goreng, Emak mengucap “Terima kasih, Ayah” tanpa suara, Ayah hanya mengangguk-angguk, menunduk, menyembunyikan rasa malunya sendiri.


*****
Read More

Saturday, 28 April 2012

I Wanna Be Emak - Diet!!!


Emak menulis jadwalnya hari ini dengan empat huruf yang diakhiri tanda seru sebanyak tiga kali. Diet!!! Tanda seru tiga kali itu adalah pertanda jumlah berat badan Emak yang bertambah sebulan terakhir ini. Bukan lagi sekilo atau dua kilo, tapi tiga kilogram. Dan Emak panik luar biasa. Jangan menurunkan sekilo, menurunkan setengah kilo saja Emak tak pernah berhasil selama lebih dari lima tahun apalagi tiga! Aduh, Emak benar-benar harus diet!!!

Mulailah Emak merencanakan program Diet!!!nya. Dengan berbekal buku-buku, majalah-majalah dan terakhir tentu saja berburu di internet, Emak mulai menyusun menu Diet!!! Yang sangat detail. Menu 3x sehari, sarapan, siang dan malam ditambah makanan penunjang seperti buah-buahan.

Tentu saja, Emak berbelanja. Emak baru nyadar kalau ternyata, susu rendah lemak itu ternyata lebih mahal. Roti gandum dan cookies rendah lemak semuanya berharga lebih tinggi daripada roti dan cookies biasa. Tapi tak apalah, demi Diet!!!

Senin pagi, seperti biasa Emak selalu menyediakan sarapan pagi buat anak-anak yang mau ke sekolah dan Ayah yang hendak ke kantor. Kali ini Emak membuat nasi goreng dengan telor ceplok serta segelas susu untuk masing-masing anak. Sementara mereka sarapan, Emak biasanya memandikan Ade.

Setelah Ade selesai dimandikan, Emakpun turun ke ruang makan. Anak-anak dan Ayah sudah selesai sarapan. Aneh, nasi goreng di dalam mangkok saji masih tersisa banyak.

“Loh kok, nasi gorengnya masih banyak?” tanya Emak sambil mengumpulkan piring-piring kotor, untuk dicuci.

Abang menoleh. “Maaf Mak, Abang makannya dikit aja. Abang kenyang. Tadi Abang lihat ada roti rasa baru, nah Abang makan itu saja. Enak! Lain kali beli lagi ya Mak!”

Emak terdiam, dia langsung melirik ke tempat ia meletakkan roti gandumnya. Benar saja, rotinya sudah tinggal setengah! Kalau Abang makan setangkup, terus yang lain ke mana? Suara lain menjawab pertanyaannya.

“Iya Mak, Kakak juga tadi minta dibuatin Ayah untuk dibawa ke sekolah. Boleh ya Mak?”

Dari kursi tempat ia duduk, Emak hanya mengangguk sambil tersenyum. Ayah mendekati Emak diikuti anak-anak, secara bergantian ketiganya berpamitan sambil mencium Emak.

“Tadi Ayah juga makan rotinya. Emang benar kata abang, rotinya enak. Gitu dong! Sekali-kali makan roti yang mahalan dikit,” kata Ayah santai lalu mencium dahi Emak.

Dan ketiganya pun pergi meninggalkan Emak dan Ade yang kini berdua saja duduk di kursi meja makan.

Emak menatap Ade yang nampak semangat makan, ia juga memilih sarapan dengan roti gandum. Dengan lesu, Emak mengambil piring kosong. Hari ini batal makan makanan diet, sayang kan nasi goreng dibuang begitu saja. Jadilah Emak pagi itu, sarapan dua piring nasi goreng dan telor ceplok.

Siang harinya, saat anak-anak pulang sekolah. Emak baru saja selesai memasak sup daging dan tumis buncis kesukaan Abang. Ditambah puding mangga yang manis dan kerupuk udang. Begitu mencium baunya, anak-anak yang sedang bermain dengan adenya menyerbu ke dapur.

“Emak, lapar nih! Makan dong!” kata Kakak.

“Iya, ini sudah Emak siapin. Kakak bantu nyediain piring ya.”

“Oke, Mak!” Kakak langsung ke rak piring dan mengambil empat buah piring dan empat buah gelas. Dibawanya ke ruang makan, mengikuti Emak yang membawa semangkok sup daging.

Setelah kembali lagi mengambil nasi dan sayur tumis buncis yang sudah tersaji dalam pinggan, Emak membantu anak-anak mengambil makanan itu ke piring mereka. Namun Emak tak mengisi piringnya samasekali, membuat Kakak melihatnya dengan bingung.

“Emak gak makan?” Kakak bertanya.

“Gak, Emak nanti saja,” jawab Emak sambil menggeleng.

Abang terlihat kecewa. “Yaaah, gak enak. Gak asyik kalau makan gak ditemani Emak. Ayo dong, Mak! Makan bareng.”

Emak diam sejenak. Tapi tiga pasang mata melihatnya penuh harap. I am a row model for my children. Kalau tak makan, bisa jadi nanti anak-anak pun mencontohnya. Emak mengambil piring dan mulai memenuhinya dengan menu makan siang. Anak-anak tersenyum girang.

“Naah, kita jadi semangat nih makannya! Selamat makan, Emak!” dan merekapun mulai berdoa, makan siang dengan ramai dipenuhi cerita-cerita saat di sekolah tadi seperti hari-hari lain. Tanpa sadar, anak-anak makin berselera makan, minta nasinya ditambah dan Emak pun lupa program Diet!!!nya, Emak juga nambah porsinya lagi.

Sore hari saat Ayah pulang. Setelah mandi dan berganti pakaian, Ayah langsung duduk di hadapan Emak, menatap Emak yang sedang duduk menulis mencatat menu-menu sehat untuk keluarga di meja makan.

“Makan dong, Mak! Tadi Ayah makannya sedikit,” pinta Ayah. Matanya mengedip menggoda. Emak tersenyum dan mengangguk. Tangannya sibuk membereskan kertas-kertas dan penanya lalu meletakkannya di atas kulkas.

Emak segera menyiapkan makanan untuk Ayah setelah menghangatkannya sebentar. Setelah menyediakannya, Emak pun duduk menemani Ayah makan.

“Loh, Emak gak makan?” tanya Ayah bingung saat menyendok nasi.

“Udah tadi siang. Masih kenyang,” jawab Emak.

“Aah, mana enak makan sendirian? Udah deh, Emak makan aja lagi. Ayah gak semangat nih.” Wajah Ayah terlihat kecewa.

Emak menghembuskan napas. “Iya iya, Emak makan deh!” dan Emakpun mengambil piring lagi untuk menemani Ayah makan.

Tepat ketika makan malam tiba, Emak bersyukur bisa melewatkannya karena anak-anak memilih makan bersama Ayahnya. Emak harus menidurkan Ade yang jam tidurnya lebih cepat malam itu karena ia kelelahan setelah sorenya diajak Emak berolahraga. Olahraga merupakan program dari rencana Diet!!! Emak.

Namun setelah makan malam, datang kakek dan Nenek. Anak-anak yang hendak berangkat tidur, langsung berlompatan bangun kecuali Ade yang sudah tertidur pulas.

Dengan sigap, Emak segera menyediakan makan malam untuk Kakek dan Nenek.

“Pak, Bu. Makan dulu yuk!” ajak Emak pada Kakek dan Nenek yang sedang mengobrol bersama Ayah.

"Anak-anak bobo ya sekarang! Besok saja main sama Kakek dan Nenek. Oke?” kata Emak tegas. Bahu anak-anak merosot kecewa, namun kaki mereka tetap melangkah masuk kembali ke kamar mereka masing-masing setelah mencium pipi Nenek. Ayah menemani mereka masuk ke kamar.

“Kamu udah makan, Nduk?” tanya Nenek pada Emak yang hanya duduk di meja makan, tangan Nenek sibuk melayani Kakek. Emak hanya mengangguk.

“Ayo makan lagi saja sini, temani Ibu sama Bapak. Sudah lama kan kita tak makan bersama,” ujar Kakek.

Emak diam sebentar. Tak seperti tadi siang, Emak ingat program Diet!!!nya. “Tapi… “ suara Emak ragu.

“Udah gak sayang ya sama Bapak Ibu lagi? Sampai nemani makan aja gak mau.” Kakek menatap Emak. Wajah tuanya mengharapkan agar sang putri kesayangan mau menemaninya.

Emak tersenyum. “Aduh Pak, tentu saja saya sayang banget sama Bapak Ibu. Iya deh, Pak. Saya makan juga.” Akhirnya Emak hanya bisa mengiyakannya. Bapak dan Ibu jarang datang, kasihan kalau dikecewakan.

“Nah gitu dong, nak! Bapak jadi tambah selera ditemani putri kesayangan Bapak,” ujar Kakek. Senyum lebar tersungging di bibirnya, bahagia karena merasa masih diperhatikan putrinya. Walaupun Emak harus lagi-lagi membatalkan programnya.

Hari itu Emak benar-benar gagal mengikuti program makan Diet!!!nya. Esoknya juga sama, karena Ade menghabiskan roti gandum Emak, lalu malamnya Kakek dan Nenek mengajak makan seluruh keluarga di restoran favorit mereka. Hari ketiga tak ada bedanya. Emak tak mau menyia-nyiakan donat yang dibelikan Ayah khusus untuknya dan anak-anak. Soal makan siang dan makan malam, akhirnya Emak tetap makan seperti biasa karena anak-anak mengira Emak sedang sakit kalau ia bertahan tetap makan sedikit.

Setelah seminggu Emak kembali menimbang berat badannya. Ia tak lagi kaget saat melihat tak satu onspun beratnya berkurang hari itu. Mengingat apa yang dimakannya selama seminggu, Emak tak yakin bisa melanjutkan dietnya. Emak ingin punya berat badan yang normal, tapi Emak tak mau mengorbankan perhatian pada orang-orang yang disayanginya.

Diet!!! pun gagal. Jangankan Diet!!! dengan tanda seru tiga, menjalankan diet biasa saja susah. Emak pun menyerah.

Gagal tak masalah. Emak tak mau berpusing-pusing tentang berat badan asalkan Emak sehat. Toh ketika ditanya, Ayah malah bilang, “Emak seksi kok kalau gemuk.”


*****
Read More

Friday, 20 April 2012

I Wanna Be Emak - Cantik


Siapapun pasti ingin terlihat cantik. Emak juga. Apalagi kalau bisa sampai memancing pujian dari sang suami tercinta dan anak-anak. Untuk penghuni rumah yang lebih doyan bercanda dan meledek, pujian adalah hal yang teramat langka buat Emak yang super cuek terhadap penampilan.

Dan itu mulai disadari Emak saat ia berkumpul dengan teman-temannya sesama ibu-ibu. Seusai pengajian, Emak biasa mengobrol dengan beberapa Ibu yang sedang menawarkan “dagangan” mereka. Entah itu peralatan masak, kotak plastik, baju muslim, suplemen, sampai peralatan kosmetik. Kadang-kadang meski tak berniat membeli, Emak cukup senang dengan bisa mengenal barang-barang itu. Paling tidak menyenangkan hati teman yang sedang berusaha keras membantu keuangan keluarga mereka. Sampai ketika salah satu teman Emak yang menjual kosmetik mengatakan betapa kusamnya kulit Emak.

“Awas loh, Jeng. Kalo tak dirawat wajah Jeng bakalan cepat tua dan keriput. Entar suami Jeng bakalan lari ke lain hati,” kata teman Emak itu lalu dengan penuh semangat menawarkan seperangkat kosmetik wajah.

Tapi Emak tetap tak mau membelinya. Bukan karena tak ingin, tapi Emak merasa sayang menggunakan kelebihan uang belanja dapur untuk dirinya sendiri. Abang dan Kakak lebih membutuhkannya untuk membeli peralatan tulis mereka yang sudah mulai habis.

Namun, kata-kata itu terngiang di telinga Emak berulang kali. Emak mulai memperhatikan penampilannya. Emak memang kurang suka berdandan sejak masih remaja dulu. Bukan karena tak mampu, tapi karena memang tak pernah seorangpun menuntutnya untuk melakukannya. Saat masih sekolah, Emak hanya mengenal bedak bayi dan deodoran. Orangtua Emak dulu selalu bilang Emak anak mereka paling cantik hingga Emak merasa tak perlu berdandan. Ketika bekerja, Emak yang kadang harus keluar kantor mendampingi atasannya di daerah tambang yang panasnya menyengat pun tak pernah menggunakan pemutih kulit atau pelindung matahari seperti perempuan pada umumnya. Boss Emak saat itu malah bilang kalau warna coklat di kulit Emak adalah the sexiest color skin in the world sehingga Emak merasa tak perlu berusaha mencegahnya apalagi memolesnya dengan make-up selain lipgloss. Dan saat menikah, Emak juga tak merasa perlu banyak berdandan karena Ayah lebih suka melihat wajah alami Emak tanpa kosmetik.

Sekarang, semuanya berbeda. Usia Emak sudah melewati angka 30 tahun. Keriput memang belum ada, karena Emak suka sekali tertawa. Tapi noda-noda berbintik hitam cukup banyak menghiasi wajah Emak, ditambah beberapa bekas jerawat yang meninggalkan “kenangan” di beberapa bagian. Belum lagi kulit yang terasa kering saat diusap dan kusam serta rambut yang tak lagi mengembang seindah dulu saat digerai. Sungguh, Emak mulai kehilangan kepercayaan diri.

Saat bertanya pada anak-anak dan Ayah, Emak langsung dihujani kritik. Apalagi saat Kakak membandingkan Emak dengan Ibu temannya yang selalu full make-up dan wangi, tidak seperti Emak yang kata Kakak selalu tercium bau masakan dari tubuhnya.

Emak tak ingin terus menerus kalut dan bingung. Maka mulailah Emak berniat mengubah penampilannya. Yang pertama tentu saja ke salon. Emak menelepon adik Emak, bertanya padanya perawatan yang harus dilakukan. Maklum Emak hanya datang ke salon kalau ada acara saja, maka tak heran Emak sedikit bingung. Walaupun sempat ditertawakan oleh adiknya karena seumur-umur baru kali ini adik Emak mendengar keinginan itu, Emak tetap bersikukuh meneruskan rencananya.

Saat ke Salon, bermodal rekomendasi dari adik Emak dan setelah berputar-putar mencari akhirnya Emak menemukan salon khusus muslimah. Emak memilih Facial dan Creambath sebagai perawatan awal sesuai pesan adiknya. Meski sedikit tercengang melihat betapa jauh bedanya biaya salon biasa dengan salon khusus muslimah, tapi Emak sudah bertekad untuk melakukannya.

Tadinya saat tiba Emak mengira akan menikmati pelayanan yang menyenangkan. Di televisi saat melihat para selebriti melakukan perawatan, Emak lihat semuanya begitu santai dan terlihat menikmatinya. Tapi ternyata, kenyataannya sama sekali tidak. Saat facial, Emak harus menahan sakit. Wajah Emak dipermak dan dipencet habis-habisan. Wanita yang melayani Emak sibuk mengeluhkan wajah Emak yang tak pernah dirawat, komedo berlimpah dan juga noda-noda hitam yang sangat banyak. Padahal seingat Emak, wajahnya tak sebegitu parah. Ah, tapi Emak tak bisa bicara karena ia harus tetap menutup mulut atau maskernya akan retak.

Setelah itu Emak juga harus rela rambutnya yang panjang ditarik ke sana kemari. Karena tak terbiasa dipijat, Emak kegelian dan justru berharap perawatannya cepat selesai. Emak kesakitan, kegelian dan tak tahan dengan hawa panas di kepalanya. Sungguh, inilah perawatan paling menyiksa buat Emak.

Ketika akhirnya semua penderitaan itu berakhir, Emak tak membuang kesempatan. Meskipun sedikit mendelik saat melihat tagihan perawatannya, kaki Emak seperti akan berlari segera meninggalkan tempat itu. Emak takut kalau-kalau salah satu pegawai di Salon itu kembali memanggilnya karena ada perawatan yang belum dilakukan. Emak tak peduli bagaimana wajahnya terlihat karena yang Emak inginkan hanya satu. Meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

“Waaah, Emak cantik sekali!” puji Abang saat Emak tiba di rumah. Emak baru saja membuka jilbab yang menutupi rambutnya yang baru saja dirawat. Rambut Emak berkilau dan mengembang indah membingkai wajahnya yang meski agak kemerahan sekarang terlihat lebih mulus.

Rasanya bagai melayang Emak menerima pujian itu. Si Abang jarang sekali bicara, maka saat ia berbicara Emak menganggapnya sebagai sesuatu yang benar-benar jujur dari hatinya. Ayah yang baru pulang dari kantor juga ikut memuji penampilan baru Emak. Kakak yang suka menggoda, sekarang terpaksa mengakui Emak jauh lebih cantik dari Ibu sahabatnya. Emak benar-benar gembira dan senang hari itu. Tak sia-sia rasanya harus bersakit-sakitan menderita dan mendapatkan hasil yang bisa membuat seluruh anggota keluarga menyukai penampilannya.

Tengah malam tiba, Emak masih tak bisa berhenti mengagumi penampilan barunya. Emak tersenyum-senyum sendiri menatap cermin di kamar tidur saat membersihkan wajahnya dan melihat betapa perawatan bisa mengubah begitu banyak hal. Ia tak sadar, sepasang mata Ayah memperhatikannya.

“Cantik itu bukan karena wajah yang mulus atau berlapis make-up, tapi cantik itu karena perasaan bahagia,” celetuk Ayah tanpa melepaskan tatapannya dari buku yang sedang dibacanya.

Emak melirik ke tempat tidur, bertanya-tanya maksud suaminya berkata seperti itu. “Ayah gak suka ya melihat Emak merawat diri dan kelihatan cantik?” tanya Emak merengut.

Ayah mendongak, menggeleng. Seulas senyum ia pamerkan. “Bukan begitu, Mak. Hari ini Emak memang cantik. Tapi Emak cantik bukan karena perawatan itu, Emak cantik karena hati Emak bahagia. Emak bahagia kan?”

Sunyi senyap untuk sesaat. Ayah kembali membaca bukunya. Sementara Emak merenungi kata-kata Ayah.

“Tahukah apa yang menyebabkan dulu Ayah jatuh cinta dan memilih Emak menjadi istri?” tanya Ayah tiba-tiba. Tanpa Emak sadari, ternyata Ayah sudah berdiri di belakang Emak, menatap Emak melalui cermin.

Tanpa menunggu pertanyaannya dijawab, Ayah kembali berkata, “karena Emak adalah seseorang yang tak pernah peduli dandanannya yang penting dia bersih. Seseorang dengan kepribadian yang periang, terbuka dan pandai menghidupkan suasana. Orang yang begitu peduli pada orang-orang di sekitarnya, sangat menyayangi orangtuanya dan memiliki perasaan yang peka. Saat itu Ayah pikir, inilah istri yang saya cari, perempuan yang akan menjadi teman hidup dan ibu anak-anak saya. Karena Ayah tahu, bersama dengan perempuan yang selalu tersenyum ini akan membuat hari-hari Ayah tak pernah sepi lagi.”

“Dan memang itu benar. Terus terang Ayah lebih suka melihat istri yang tak pernah kuatir kecipratan minyak atau bau badannya seperti bau bumbu masak asal bisa menghidangkan masakan terenak buat keluarganya, Ayah lebih sayang pada istri yang mau berpeluh keringat dan berkulit gelap karena mengantar ke sekolah memastikan anaknya tidak terlambat hadir dan Ayah lebih bangga pada istri yang rela menjahit bajunya berulang kali demi menabung buat pendidikan anak-anak. Bagi Ayah, itulah istri paling cantik di dunia. Istri yang memikirkan kepentingan keluarganya lebih dahulu dibandingkan kepentingannya sendiri.”

Emak tak bisa menjawab. Hanya dua tetes airmata mengalir di kedua pipinya, terharu. Ayah mengelus rambut Emak. “Ayah senang Emak merawat diri, karena artinya Emak merawat apa yang diberikan Allah dan itu adalah kewajiban setiap umat manusia. Tapi Emak jangan pernah melupakan kalau kecantikan yang sesungguhnya itu adalah wajah yang merasakan kebahagiaan di hati. Ayah ingin Emak tahu itu. Ayah ingin Emak menjadi ibu dan istri yang cantik dan bahagia. Kalau memang dengan merawat diri Emak bahagia, lakukan saja. Tapi jangan karena Ayah atau anak-anak yang doyan meledek ya. Apalagi karena kata-kata teman yang sedang berjualan kosmetik,” ujar Ayah mengakhiri kata-katanya sembari mencium ubun-ubun Emak.

Setelah itu Ayah meninggalkan Emak sendirian di kamar. Jiwa Emak seakan tersiram air mendengar nasehat Ayah. Ayah yang juga jarang bicara seperti Abang itu, selalu bisa membuat Emak terharu. Tangis Emak tetap tak berhenti. Emak baru sadar kalau Emak hampir kebablasan menikmati “kecantikan”nya, Emak hampir lupa kalau kecantikan yang utama adalah kecantikan hati.

Jajaran peralatan perawatan wajah baru yang sempat dibeli Emak seusai dari salon tadi sudah bersusun rapi di atas meja rias dan Emak tetap akan memulai merawat diri lebih dari sebelumnya, tapi Emak takkan melupakan semua pesan Ayah. Sebagai seorang wanita, Emak ingin tampil cantik dari luar dan dari dalam. Untuk itulah Emak akan menjaga kebersihan wajah, tubuh dan juga hatinya, untuk dirinya sendiri, untuk keluarga dan untuk orang-orang di sekelilingnya.


*****

Read More

Monday, 9 April 2012

I Wanna Be Emak - Mencontoh Istri Ustad

“Yah, Minta uang buat ke salon dong!” kata Emak.

Ayah terdiam, bengong, melongok dan heran.

Emak tertawa kecil. “Kata Ayah kan, jadilah istri soleha dan contohlah istri para ulama besar!”

Ayah mengangguk dengan wajah masih berkerut-kerut bingung.

“Nah, barusan Emak nonton tivi. Ada istri Ustad majang mejeng ke salon, pedikur, medikur, perawatan wajah dan sebagainya. Jadi sebagai bahan pelajaran Emak jadi istri yang soleha, boleh dong Emak ke salon?” tanya Emak. Tapi mata Emak menari-nari menggoda Ayah.

“Iya, yah. Biar entar kalau Ayah sudah terkenal. Ayah bisa muja-muji Emak di depan umum,” suara Kakak, anak Emak yang pertama menimpali.

Ayah bangkit, wajahnya tampak kesal. “Mulai besok kalau Emak dan kakak nonton inpotainment lagi. Ayah jual tipinya!!!” kata Ayah mencak-mencak sambil meninggalkan ruang makan.

***


“Mak, besok Ayah mengisi taklim pengajian. Jadi pulang sholat dhuhur di mesjid, Ayah langsung ke sana dan mungkin ba’da Isya baru pulang karena tempatnya jauh. Emak makan sama anak-anak saja, tak usah menunggu Ayah,” beritahu Ayah.

Emak mengangguk. Tiba-tiba Emak teringat sesuatu. “Eh ayah, ayah… Jadi sekarang Ayah mulai berdakwah di luar RT?”

Ayah mengangguk. “Insya Allah, Mak. Didukung ya, tolong Emak kasih tahu anak-anak supaya jaga tingkah laku karena dakwah yang utama itu adalah contoh berperilaku. Minggu depan Ayah juga akan mendakwah di acara Maulidan yang insya Allah akan diliput televisi.”

Emak tak menjawab. Emak berdiri, menjauh sedikit ke arah pintu dan menatap ke seantero dapur dan ruang makan yang jadi satu itu. Mukanya berkerut-kerut, memikirkan sesuatu.

“Kenapa, Mak?”

Emak duduk lagi. “Yah, Ayah jangan sampai jadi ustad terkenal apalagi seperti selebritis deh.”

Ayah hampir tersedak oleh kopinya yang sedang ia minum mendengar permintaan Emak. “Loh, kenapa?” tanyanya bingung.

“Soalnya Emak takut Ayah nanti malu.”

Ayah makin bingung. Ditatap istri tercintanya tak percaya. Lalu bertanya, “apa maksud Emak sih? Ayah jadi bingung.”

“Ya iya, nanti Ayah pasti malu deh. Kan dapur kita jelek, ruang makan juga hanya beralaskan tikar bambu. Ruang tamu aja sofanya bolong-bolong apalagi kamar kita. Waduh, Yah. Ntar kalau Ayah pamerin saat diwawancara tipi, malah malu deh.”

Ayah menatap Emak. Mau marah, Emak benar. Mau kesal, Emak betul. Ayah memilih kembali konsentrasi membaca bukunya, membiarkan Emak mesem-mesem menyembunyikan tawa gelinya karena sekali lagi berhasil menggoda Ayah.

***


Emak baru pulang dari pasar, ketika melewati ruang keluarga dia terperanjat kaget. Hartanya yang termasuk 10 besar paling berharga di rumah, televisi ukuran 14 inchi yang dibelinya setelah menabung berbulan-bulan lenyap.

“Ayah!!! Tipi hilang!” kata Emak panik. Ayah tergopoh-gopoh keluar dari kamar.

Ayah menatap meja televisi yang sekarang kosong melompong. Santai. “Tipinya Ayah jual.”

Bahu Emak merosot bingung. “Yaaah, Ayah. Kok dijual sih?”

“Ayah sebel Emak rajin nonton inpotainment. Ayah kesal karena Emak menggunakan kebodohan istri Ustad buat jadi istri yang bodoh juga. Pokoknya gak ada tipi-tipian lagi,” kata Ayah tegas.

“Ayah sayang, suamiku yang baik dan ganteeng. Emak bukannya tak tahu kalau itu salah. Emak juga gak berniat mengikuti kebodohan itu. Maksud Emak biar Ayah punya referensi bahan buat dakwah. Emak juga bukannya rajin nonton inpotainment. Tapi kan Ayah tahu, remote kita itu wis uzur, angkanya aja udah gak kelihatan lagi jadi Emak harus explore channel satu persatu sebelum mendapat chanel pilihan. Nah Ayah juga tahu, 90% tipi kalau pagi nayanginnya berita inpotainment. Ya Emak jadi tahulah. Emak janji deh, tetap jadi istri Ayah yang manis, gak ngikutin Istrinya Ustad. Cukup jadi istri yang mengikuti apa yang Mursyidnya ajarin. Ayah jangan marah ya. Jangan menyalahkan tipi, Yah karena justru kalau kita pinter manfaatin tipi banyak manfaat positifnya. Please, Ayah ganteng!” bujuk Emak sambil memijat-mijat lengan Ayah.

Dan Ayah pun tersenyum. Ayah sebenarnya hanya ingin membalas Emak. Televisi mereka tidak dijual, hanya dibawa ke reparasi untuk diperbaiki. Namun Ayah senang, Emak menjadikan semuanya jelas. Saat Ayah menjelaskan pada Emak, Emak tak marah dan malah tertawa.

“Eh, ngomong-ngomong. Jarang loh Emak bilang Ayah ganteng. Sekali lagi dong!” kata Ayah.

“Weee, enak saja. Beliin dulu tipi baru!” canda Emak sambil tertawa. Ayah juga tertawa. Tapi waktu Ayah hendak keluar lagi dari ruang keluarga, Emak mencium pipi Ayah.

“Ayah bukan hanya ganteng, tapi Ayah adalah Imam paling sabaaar di dunia. Emak sayaang banget sama Ayah!”

Ayah terdiam. Mungkin ini Emak dapat cara ini dari melihat gaya lebaynya istri Ustad, tapi Ayah tak bisa pungkiri Ayah suka melihat Emak mempraktekkan hal-hal yang baik seperti itu. Boleh saja menunjukkan cinta pada suami, asalkan jangan di depan umum. 

*****
Read More

Friday, 6 April 2012

I Wanna Be Emak - Panik

Emak senang, akhirnya anak-anak sudah selesai menghadapi ulangannya. Meskipun tak ikut “ulangan”, tiap malam Emak harus deg-degan, pusing memikirkan kesiapan dua anaknya yang sudah bersekolah. Benar saja kata Nenek dulu, setiap Emak pasti ikut “sekolah” lagi kalau anaknya sekolah. Sekarang, semua sudah selesai. Emak bahkan menuliskan gede-gede di kalender yang terpampang di ruang kerjanya. EMAK BEBAS!!!

Dengan gembira, Emak menyambut hari ini. Ia memulainya tentu saja… dari dapur. Memaksa anak-anak menyantap hidangan terbaru ala Emak. Apapun itu, kali ini Emak yakin hasilnya pasti enak.

“Kakak, Abang, Jagain Adenya ya! Emak mau buat brownies,” perintah Emak tegas saat akan masuk ke dapur, meninggalkan anak-anak di ruang bermain. Ah sebenarnya bukan ruang bermain, itu adalah ruang tengah yang disulap anak-anak menjadi arena permainan mereka hari itu.

“Okeeeeh, Mak! Masak yang enak ya!!” hampir berbarengan keduanya menjawab, meski sama sekali tidak melihat pada Emak. Emak hanya tersenyum menatap ketiga anaknya yang mulai asyik menyusun mainan-mainan mereka membentuk rumah-rumahan mini.

Tak lama saat Emak tengah “bertempur” dengan peralatan masak kue, anak-anak juga seru berteriak dan berbicara sambil tertawa-tawa menikmati permainan mereka. Sesekali Emak menengok ke ruang tengah mengecek keadaan mereka. Anak-anak sedang bermain rumah-rumahan, namun sesekali mereka juga saling bercanda. Beberapa teman mereka juga sudah mulai berdatangan dan ikut bermain, mungkin karena tergoda mendengar suara tawa anak-anak Emak yang terdengar hingga keluar.

Emak hampir menyelesaikan masakannya, ketika terdengar teriakan hampir bersamaan yang lebih menyerupai ketakutan. Dengan sigap, Emak langsung mematikan kompor dan berlari keluar.

“Emak!! Ade kemasukan batere,” lapor kakak dan abang hampir bersamaan. Kakak nampak memeluk Adenya yang berteriak-teriak kesakitan. Abang panik dan menarik-narik tangan Adenya yang bergerak meronta. Untuk sesaat Emak diam, mencerna laporan anaknya.

Emak menggendong Ade dan memperhatikan wajahnya. Wajah Ade memerah karena menangis dan tangannya terus bergerak memencet hidung, Emak terpaksa menahannya dan sibuk memeriksa.

“Batere apa? Di mana? Kok bisa?” tanya Emak pada Kakak dan Abang tanpa melepaskan perhatian dari Ade.

Sambil terisak karena rasa bersalah tidak menjaga Ade dengan baik, Kakak melaporkan dengan singkat apa yang baru saja terjadi. Ade melepas baterai bundar kecil dari ponsel mainannya, Kakak lihat tapi ia membiarkan Ade memainkan batere tersebut. Entah apa yang terjadi, tahu tahu Ade menjerit dan menunjuk hidungnya. Batere itu sudah masuk di dalam salah satu lubang hidung Ade.

Jantung Emak berdebar keras karena kuatir. Emak tak tahu harus berbuat apa. Namun yang pertama dilakukan Emak adalah menenangkan Ade sekaligus menenangkan hatinya sendiri. Emak memeluk Ade dengan kuat sambil berbisik, “sudah, sudah Ade jangan nangis ya, sayang.”

Lalu sambil berjalan menuju telepon. Emak sibuk memberi perintah pada Kakak dan Abang. “Kakak, ke dapur dan pastikan kompor sudah mati semua. Abang, take my bag, dompet di dapur dan kunci rumah. Habis itu kalian semua turun dan siap-siap. Kita ke rumah sakit.” Sementara tangan Emak tetap menggendong Ade, Emak menghubungi Ayah via telepon dan memberitahu secara singkat apa yang terjadi. Emak meminta Ayah menemui Emak di rumah sakit.

Jeritan Ade semakin nyaring, ingus berwarna bening mulai membasahi bagian bawah hidung Ade mengucur terus menerus tak berhenti. Dengan langkah cepat, Emak segera berlari turun menuju pintu depan. Setelah memastikan pintu rumah terkunci, Emak, Kakak dan Abang berlarian tergesa-gesa mencari taksi. Kakak juga membantu Emak membawa tas tangan.

Sepanjang jalan dan di dalam taksi, Emak sibuk berdoa di dalam hati. Ya Allah, selamatkanlah anakku. Tolong, jangan sampai terjadi sesuatu yang parah. Emak melirik ke samping, melihat wajah kedua anaknya yang lain juga tampak bingung dan sedih. Abang beberapa kali menyusutkan airmata, sementara sejak tadi Kakak terus berkomat-kamit membaca surat-surat Alquran yang dihafalnya. Jelas sekali mereka juga ketakutan seperti Emak. Tangan Emak yang masih bebas menepuk-nepuk pundak Kakak dan Abang bergantian, keduanya mendongak.

“Kalian tenang, baca doa ya. Insya Allah Ade gak papa,” bisik Emak sambil berusaha tersenyum. Anak-anak mengangguk sementara suara tangis Ade mulai melemah. Mungkin karena dia kelelahan dan kepalanya bersandar di dada Emak. Namun kucuran ingus masih terus mengalir dari hidungnya.

Saat tiba, Emak menyerahkan Ade pada dua suster yang tanggap mengambilnya dari pelukan Emak. Secara singkat, Emak menceritakan apa yang terjadi. Sementara Kakak yang sudah mengerti instruksi Emak menuju administrasi gawat darurat, menyerahkan kartu rekam medik Ade yang ada di dompet Emak.

Waktu terasa berjalan begitu lambat saat dokter dan para suster mulai mengecek Ade. Ade yang ketakutan melihat banyaknya orang asing yang mengelilinginya mulai menangis lagi dan lebih nyaring. Akhirnya setelah sepakat harus melakukan tindakan apa, Emak diminta tetap menggendong Ade dengan posisi menimang. Tangan dan kaki Ade dipegang oleh para suster, sementara dokter mulai memeriksa dan menggunakan sebuah alat. Ternyata alat itu terlalu besar. Dokter berpikir sejenak dan akhirnya mengambil sebuah klip kertas. Mata Emak melotot kaget.

“Loh kok pake itu, dok?” sergah Emak. Tangan Dokter yang bersiap bergerak segera berhenti.

Dokter tersenyum. “Alat kita tak ada yang masuk karena lubangnya kecil sekali. Ibu percaya kami, ya. Ini mau saya pakai untuk mengungkit batere keluar, jadi tak perlu tindakan apa-apa. Kalau luka atau terjadi robekan kulit, bisa kita obati dengan obat. Kalau dibiarkan saya kuatir baterenya akan semakin masuk ke dalam.”

Emak terdiam sejenak. Bismillahirrahmanirrahim. Emak menghela nafas. Akhirnya Emak membolehkan dokter melakukannya. Dokter membujuk Ade agar tenang dan tak bergerak dengan berkata membujuk lembut. Emak memeluk Ade sekuat yang ia bisa agar Ade tak bergerak, karena sedikit saja bergerak, maka hidung Ade pasti luka. Tak sampai beberapa menit, batere bundar kecil itu berhasil dikeluarkan. Suara desah lega memenuhi ruang gawat darurat itu, termasuk Emak yang langsung mengucapkan syukur berkali-kali sambil memeluk Ade.

Dokter tengah memeriksa keadaan hidung Ade setelah batere dikeluarkan saat Ayah muncul dengan wajah seputih kertas dan nafas terengah-engah. Setelah dokter bilang semuanya baik-baik saja dan bahkan tak ada luka lecet di bagian dalam hidung Ade, Emak dan Ayah merasa sangat lega. Bergantian keduanya memeluk Ade.

“Ade tadi kenapa?” tanya Ayah saat mereka berada di dalam mobil kembali pulang ke rumah. Ade dan kedua kakaknya sibuk memakan donat pemberian Ayah. Donat itu besarnya hampir setengah wajah Ade. Lalu sambil terus asyik mengunyah, ketiganya saling bersahutan penuh semangat menceritakan kejadian tadi dengan versi masing-masing. Emak diam saja, hanya berusaha tersenyum. Berbeda dari ketiga anaknya yang terkesan seperti tak ada kejadian yang menakutkan, jantung Emak masih terus berdebar kencang dan ia masih berjuang menenangkannya.

“Lain kali, jangan bermain dengan benda-benda yang kecil. Kakak dan Abang juga harus perhatikan kalau Emak sedang sibuk, ya,” kata Ayah menasehati. Dengan lirikan menggoda, Ayah kembali menyambung, “soalnya kalau ada apa-apa kasihan Emak kalian. Tuh lihat, Emak lupa pakai jilbab bahkan Emak lupa mengganti baju seragamnya saking paniknya. Hehehe…” Ayahpun terkekeh diikuti anak-anak yang juga baru menyadari penampilan Emak.

Emak terkesiap. Matanya menelusuri sekujur tubuhnya. Astaghfirullah! Emak baru sadar kalau dia hanya memakai daster,seragam wajibnya di rumah dengan rambut yang masih tergelung asal-asalan dengan karet gelang dan yang lebih parahnya lagi tidak berjilbab. Tawa Ayah semakin kuat ketika melihat wajah Emak merona malu.

Keesokan harinya anak-anak tercengang saat melihat kotak mainannya. Semua mainan yang di dalamnya menggunakan batere, dibungkus oleh Emak dengan lakban hitam yang sukar sekali dilepas.

“Yaah, Mak. Jadinya jelek banget nih! Ini kan baterenya besar, hidungnya Emak juga gak masuk,” keluh Kakak saat melihat salah satu bonekanya yang berbunyi dilakban Emak di bagian punggung.

“Masa bodoh, pokoknya semua harus aman. Terima gak terima, ini rumah Emak aturan Emak!” ujar Emak tegas tak mau kalah, sambil ngeloyor ke dapur.

Ayah tertawa geli melihat ketiga anaknya mengeluh menggerutu melihat semua mainan mereka yang bergerak sudah mendapat label lakban hitam. Emak tak peduli meski mobilan Abang jadi sulit bergerak karena bagian bawahnya juga dilakban Emak sedangkan Ade yang tak tampak trauma berjuang keras melepas lakban yang menutupi bagian bawah piano kecilnya dengan kesal.

Buat Emak, cukup satu kali kejadian untuk dipelajari. Apapun itu Emak tak mau kejadian yang menakutkannya itu terjadi lagi. Kepanikan saat anak mengalami anak kecelakaan, adalah hal paling menakutkan buat Emak. Sampai sekarang kalau mengingatnya, bulu kuduk Emak langsung berdiri. Jadi suka tak suka, anak-anak harus menerima tambahan satu peraturan lagi, semua mainan yang berbatere harus dilakban. Emak oh Emak.


*****
Read More

© Ruang Cerita, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena