Kumpulan Cerita Fiksi Karya Bunda Iin

Showing posts with label Cerita Bersambung. Show all posts
Showing posts with label Cerita Bersambung. Show all posts

Wednesday, 12 December 2012

Ombak (1)

Aku merindukan Emak. Aku juga merindukan Bapak. Aku lebih merindukan Haikal dan Ibrahim. Dan rindu itu tak pernah berhenti sampai hari ini. Rindu yang mengiringi harapan, bahwa mereka hanya sementara pergi dariku, bahwa mereka sedang tersesat dan lupa jalan untuk pulang. Suatu hari, ketika peringatan hari spesial itu tiba, mereka datang padaku dengan rindu yang sama dan berkata. “Laila, kami sangat merindukanmu.”

Mataku mulai berair, lagi. Aku tersenyum. Senang mengetahui airmataku ternyata belum kering meski terkuras begitu banyak selama delapan tahun terakhir ini. Setidaknya airmata ini telah membuktikan bahwa hatiku masih basah. Basah oleh cinta dan rindu, yang tersisa setelah rasa kehilangan yang terlalu tiba-tiba.

Kakiku mulai terasa pegal dan aku berdiri. Menatap ke arah pasir putih di ujung bukit. Jika diperhatikan dengan seksama, lautan pasir itu menutupi sisa-sisa keramik lantai yang kini hampir menjadi puing. Dulu salah satunya adalah lantai rumahku. Dimana kehidupanku dimulai.

Bapakku seorang penjual ikan di pasar. Setiap tengah malam, ia pamit dan berjuang mendapatkan jatah untuk dijual. Emak menyusulnya setelah sholat subuh, membantu Bapak berjualan di pasar hingga matahari hampir melewati kepala. Aku, anak perempuan pertama mereka. Aku lahir tengah malam, saat Bapak sudah pergi ke ujung dermaga. Emak berjuang melahirkanku dibantu dukun beranak yang baik hati mau tinggal beberapa hari menemani Emak sebelum ia melahirkan. Mereka memberikanku nama Laila, keindahan malam. Semua orang bilang aku sangat mirip dengan Bapak.

Usiaku berbanding jauh dengan Haikal, adik laki-lakiku. Ia lahir ketika aku sudah duduk di kelas 6 SD. Wajahnya putih bersih, tidak kecoklatan sepertiku atau Bapak. Dia lebih mirip Emak. Rambutnya pun keriting seperti Emak. Hanya matanya yang serupa denganku. Haikal lucu saat balita. Karena kesibukan Emak, akulah yang lebih banyak merawat Haikal.

Tak sampai dua tahun, Bapak datang membawa pulang seorang bayi laki-laki lain. Tak seperti kelahiran Haikal yang disambut dengan gembira dan penuh sukacita, kedatangan bayi ini justru membuat orangtuaku murung. Bayi itu anak laki-laki adik Bapak yang tewas tertelan oleh lautan yang memberi kami makan dan sang Ibu juga menyusul tak lama kemudian karena tak kuat menanggung derita sendirian. Kali itu, Emaklah yang memberi nama. Ibrahim. Kata Emak, agar suatu hari anak ini menjadi anak yang tabah, tangguh dan teguh seperti Nabi Ibrahim AS.

Meski miskin, meski harus merasakan rumah yang sempit dan harus selalu berbagi. Aku bahagia. Emak dan Bapak yang harus giat bekerja, selalu pulang dengan wajah bahagia. Haikal dan Ibrahim tumbuh bersama, di bawah pengawasanku. Pekerjaan rumah tangga, sedikit demi sedikit menjadi tanggung jawabku. Bahkan akhirnya aku memasak.

Ada janji yang kulontarkan pada Emak.

“Akan kubuat toko kelontong seperti yang ada di kota untuk Emak. Supaya Emak tak berpanas dan berbau lagi saat berdagang. Emak tinggal duduk-duduk mengawasi pembeli yang datang. Lalu bisa menemani adik-adikku lebih sering.”

“Amiin… Semoga Allah mengabulkan niat baikmu ya Nak.”

“Aku akan merantau. Cari uang yang banyak untuk Emak dan Bapak. Kalau uangku sudah banyak, aku janji membuat toko itu nanti.”

Emak hanya tersenyum, hanya tangannya yang mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang. Tak ada kata-kata dari mulutnya, tapi mata yang berbicara kalau ia tak merelakanku pergi jauh darinya.

Tapi Emak tak pernah mencegah. Bahkan ketika hari di mana aku memutuskan untuk pergi. Emak hanya tersenyum, meski aku tahu senyum itu sangat dipaksakan. Emak menghindariku sejak seminggu sebelum aku berlayar meninggalkan Meulaboh, menumpang dengan seorang teman Bapak yang hendak ke Banda. Hanya Bapak yang akhirnya buka suara dengan kebijaksanaannya yang selalu kusegani.

“Emak takut tangisnya akan mengurungkan niatmu. Biarlah. Biar waktu yang mengobati rindu Emakmu nanti. Jagalah dirimu baik-baik, Laila. Jangan menuruti hawa nafsu, berusahalah semampumu tapi biarkan Allah SWT yang menunjukkan hasilnya. Ikuti saja air yang mengalir. Sebelum bekerja, ucapkanlah Bismillahi Tawakaltu Allaahu, Laa Haula Walaa Quaata Illaa Billaahi. Bekerja dan berusaha dengan mengingat Allah, bertawakal saat menjalaninya, lalu pasrahkan semuanya karena tak ada kekuatan yang lebih besar selain Allah.”

“Ya Bapak.”

“Sering-sering menulis surat untuk sekedar menawar rindu Emak dan adik-adikmu.”

“Ya Bapak.”

“Ingatlah Allah selalu, anakku.” Dan Bapak tiba-tiba diam. Ia berpaling ke arah lain, tangannya tampak sibuk menghapus air yang jatuh dari matanya yang hampir tak pernah kulihat basah. Aku tak sanggup menahan sedih. Kalau Bapak sampai menangis, berarti ia benar-benar sedang sedih. Aku juga menangis. Sedih karena harus meninggalkan orang-orang yang kucintai.

Nasehat itu masih terngiang sampai sekarang, Bapak. Nasehat itu ibarat api yang selalu membakar semangatku setiap hari baru tiba ketika aku berada di Jakarta. Berjuang dari bawah, sebagai seorang pembantu rumah tangga. Kemahiranku mengurus rumah tangga ternyata sangat membantu saat itu. Bahkan akhirnya aku bisa mengubah profesiku menjadi Baby Sitter dengan bekerja pada keluarga yang sangat baik. Berkat mengurus Haikal dan Ibrahim, aku bisa memperoleh pekerjaan dengan gaji yang lebih layak.

Tiap bulan, aku menyisihkan sebagian besar gaji untuk ditabung. Aku memang tak pernah mengirim ke kampung karena Bapak dan Emak melarangnya. Satu kali aku mengirimnya via pos, tapi tak pernah sampai. Entah siapa yang menerima dan kemana perginya weselpos itu, yang menguap seakan dibawa oleh semilir angin pantai Meulaboh. Lagipula, Emak dan Bapak merasa masih mampu untuk membiayai sekolah adik-adikku.

Kau bisa hidup dengan baik di sana, makan dengan layak dan berpakaian dengan baik sudah cukup bagi kami. Tak usahlah kau berbagi rezeki dengan kami, putriku yang cantik. Simpan untuk masa depanmu. Tenang saja, Emak dan Bapak masih sanggup bekerja. Allah akan mencukupkan kebutuhan kami. Insya Allah.

Itu yang ditulis Bapak ketika aku mengeluhkan soal wesel yang tak pernah sampai. Dan aku memang tak pernah mengirimkan uang lagi. Pikiranku Cuma satu, aku ingin menunaikan janjiku pada Emak. Toko Kelontong dengan ruangan berair-conditioner seperti yang pernah kami lihat ketika nonton televisi bersama dulu.

Sedikit demi sedikit, setelah berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga lainnya, aku masih terus menabung. Kalau lelah datang mendera, kularikan semua itu dengan mengadu pada Sang Kuasa atau menatap kembali beberapa foto Emak, Bapak dan adik-adik yang secara rutin mereka kirimkan padaku.

Beberapa lebaran terlewat tanpa kehadiranku, sampai kemudian aku tak lagi bisa bertahan. Hampir lima tahun berlalu, sebelum akhirnya aku ikut rombongan pemudik pulang melepas kangen pada keluarga. Terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba, Emak sampai memecahkan piring karena tak sabar untuk memelukku. Haikal, kini sudah hampir setinggi pundakku dan ia dengan bangga memamerkan kemampuannya menendang bola yang dulu sering kutertawai. Adikku yang terkecil, Ibrahim yang tak banyak bicara pun ikut ambil bagian menarik perhatianku dengan memperlihatkan sebuah lukisan yang indah di kamarnya. Lukisan bercorak pantai berpasir putih dengan seorang gadis yang menggandeng dua anak kecil. Itu pasti aku dan mereka.

Dulu kami memang banyak menghabiskan sore-sore yang indah di pantai dekat rumah kami. Di sanalah kami berlari-lari, dengan ujung celana basah, saling mencipratkan air asin itu ke wajah. Atau saat ombak sedang bersahabat, kami pun menyusui pantai mencari kerang-kerang besar yang kosong. Seperti dulu saat Bapak mengajarkan tentang musik lautan, akupun mengajari adik-adikku.

Kudekatkan kerang besar kosong itu di telinga mereka, lalu berbisik, “pejamkan matamu, adikku dan dengarkanlah musik lautan.”

Siisssh, sisssh, siiisssh… Desah musik lautan itu membelai telinga kedua adikku. Mata mereka bergerak-gerak mendengarkan dengan seksama. Saat mata itu terbuka, mereka terpukau.

“Itukah musik lautan, Kak?”

Aku mengangguk. Keduanya terperangah.

“Kok bisa? Kenapa…” Aku hanya tersenyum dan membentangkan tanganku lebar-lebar.

Ombak, dialah musik lautan. Kerang itu hanyalah perekam sang ombak. Ombak membawa berita tentang lautan. Tentang air, tentang persahabatannya dengan manusia, tentang kekuasaannya yang semakin luas, tentang makhluk-makhluk penghuninya yang diam namun menjerit karena perilaku manusia, tentang langit yang tercermin dalam kaca-kaca lautan nan bening.

Saat itu mereka tak mengerti. Namun seiring waktu, Bapak pun mengajarkan hal yang sama pada mereka. Bahwa ombak dengan musiknya sedang memberitahu kita apa isi hatinya. Bahwa manusia hanya perlu mendengarkan, melihat dan memahami untuk tahu bahwa ombak sedang berbaik hati atau menyimpan amarah.

Dalam surat-surat Bapak dan Emak, mereka bercerita tentang Ibrahim. Ibrahim-ku, adik kecil yang terlahir dengan jiwa puitis masih sering datang ke pantai untuk memejamkan matanya menikmati angin laut yang menyapu wajahnya dengan tangan terbentang dan membisikkan kata-kata yang tak jelas.

Kusentil pundak Ibrahim dengan pundakku. “Kamu masih melakukannya?”

“Apa? Melakukan apa, Kak?” tanya Ibrahim bingung.

“Bicara dengan laut tentu saja. Masih?”

Ibrahim tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja. Kalau lagi tak sekolah. Aku bilang sama laut, untuk membawa Kakakku kembali karena aku rindu padanya. Rindu mendengarkan musik lautan bersamanya.”

Senyumku lenyap. Batin ini terasa tercekat. Mataku yang tadi sanggup menahan airmata kini mulai terasa panas. Sebentar lagi, sedikit lagi bendungan airmataku bakal jebol. Dan untunglah Emak memahami ekspresi wajahku. Ia menepuk bahu Ibrahim, mengalihkan perhatiannya.

Lebaran itu, aku mengunjungi banyak orang. Entah itu teman-teman masa kecil, teman-teman ketika sekolah, juga keluarga Bapak dan Emak yang rata-rata pencari atau penjual ikan seperti mereka. Aku ingin melepas kerinduanku akan kampung halaman yang membesarkan diriku seperti sekarang.

Tak sekali aku datang memasuki perkampungan para nelayan. Bau amis ikan segar bercampur ikan asin yang sedang dijemur seperti mengembalikan ingatanku akan masa kecilku di kampung itu. Bermain-main di antara bangsal penjualan ikan, lalu bercanda berlarian di antara ikan-ikan asin yang dijemur bersama teman-teman. Semua masih segar dalam ingatanku. Betapa sederhananya kebahagiaanku saat itu, tak pakai sandalpun tak apa, yang penting bisa bermain, menunggu Emak dan Bapak selesai berdagang. Itu pula yang dilakukan Haikal dan Ibrahim kemudian. Bau yang menyengat itu bagai wangi kehidupan yang membuat kami takkan pernah bisa melupakan, bahwa lautan itu adalah sahabat.

Sayang, kemiskinan yang dirasakan banyak orang di kampung nelayan ternyata menyentuh hati terdalam Haikal. Seperti diriku yang ingin mengeluarkan kedua orangtua kami dari kubangan itu, Haikal pun ingin melakukan hal yang sama. Miskin membuat Haikal paham, apa artinya uang.

“Aku mau jadi dokter, Kak!” katanya dengan mantap. Wajah Haikal yang keras karena sering membantu Bapak berdagang tampak serius.

Bapak menunduk, Emak hanya tersenyum. Senyum Emak sangat tipis. Senyum itu bagai mengungkapkan perasaan putus asa yang menaungi harapan Haikal.

“Realistis saja, Kal. Jadi dokter itu biayanya sangat banyak.”

“Aku akan cari beasiswa. Aku juga akan bekerja sambil kuliah. Kalau Kak Laila bisa, aku juga bisa.”

Sorot mata yakin itu membuatku lega. Haikal punya mimpi, sama sepertiku dulu. Banyak orang apatis menerima mimpi itu, tapi Bapak tidak. Sekarang Bapak memang tidak mendukung Haikal seperti dulu mendukung aku, tapi aku percaya pada kekuatan harapan.

Aku berjanji menjemput Haikal kalau dia sudah menyelesaikan ujian terakhir Sekolah Menengah Akhirnya, dengan syarat dia menjadi yang terbaik. Aku tahu itu bukan janji yang sulit. Haikal itu cerdas sejak masih kecil dulu. Aku ingat, Bapak dan Emak pernah diundang menghadiri penghargaan siswa yang lulus terbaik ketika dia lulus dari sekolah menengah pertama. Aku yakin pula, kali ini Haikal juga pasti bisa melalui ujian akhirnya dengan nilai yang memuaskan.

“Janganlah takut, Emak! Aku akan menjaga Haikal baik-baik. Sayang kalau otak yang begitu encer disia-siakan begitu saja. Biarkanlah dia meraih cita-citanya menjadi dokter, Mak. Dulu Emak bisa melepasku, kenapa tidak pada Haikal?”

Emak menghela nafas. Ia tak menyahut. Tangannya tetap sibuk mengumpulkan piring-piring kotor yang baru selesai kami gunakan tadi setelah makan malam.

“Biarkan itu di situ, Mak. Biar aku yang mengerjakan,” bisikku sambil menyentuh bahu perempuan yang rambutnya kini sebagian telah memutih.

Emak tersenyum tipis. Ia menepis tanganku dengan halus. “Dulu, Emak berharap punya anak-anak yang selalu ringan tangan dan mau membantu pekerjaan Emak. Bahkan meski sekedar membereskan tempat tidur saja. Bukan main senang hati Emak melihat kalian benar-benar tumbuh jadi anak-anak yang begitu rajin. Terutama kau, Laila. Sampai kemudian, kau merantau…”

“Emak baru sadar, banyak hal yang telah Emak lewati selama ini. Emak jarang membuatkan kue yang kau suka. Emak jarang memasakkan sayur lodeh yang selalu kau lahap dengan cepat. Emak merasa terlalu banyak hal yang jarang dan mungkin tak pernah Emak lakukan untukmu. Maka sekarang, saat kau di sini, Emak ingin melakukannya untukmu. Emak ingin membereskan tempat tidur untukmu, menyetrika lagi pakaianmu, memasak untukmu bahkan mencuci setiap piring kotor yang kaupakai. Buat Emak, inilah kesempatan Emak untuk mengurusmu, putriku. ”

Emak berbalik. Aku tahu, ia pasti menyembunyikan tangisnya lagi. “Jangan menangis, Mak! Menangislah kalau Emak merasa bahagia, jangan menangis karena Emak merasa susah karena setiap tetes airmata Emak akan menjadi dosa bagiku. Maafkan Laila, Mak,” kataku sambil memeluknya dari belakang.

Perempuan yang kini hanya setinggi bahuku itu mengangguk dan aku bisa merasakan tangisnya yang makin kencang. Sungguh Emak, kaulah ibu terbaik yang kumiliki dan kau telah memberikan segalanya untukku.

“Kalau Haikal ingin kuliah di Jakarta, Emak bukannya tak rela. Emak hanya sadar, Emak juga jarang bersamanya selama ini. Emak tak tahu lagi. Masih adakah umur Emak saat nanti ia kembali?”

“Emak!” Haikal masuk dengan wajah memerah. Matanya tampak berkaca-kaca. “Jangan berkata seperti itu, Mak!” sambungnya.

“Haikaal…” Nada suaraku meninggi mendengar Haikal yang berkata pada Emak dengan intonasi sedikit tinggi.

“Haikal kuliah ini untuk Emak dan Bapak. Haikal ingin jadi dokter untuk Emak. Emak sering bilang obat kampung lebih manjur daripada obat dari dokter, padahal itu karena Emak tak sanggup membayar obatnya kan? Haikal ingin menjadi dokter yang bisa memberikan obat yang murah, Mak. Supaya Emak dan Bapak selalu sehat, lebih banyak waktu untuk bersama Kakak, Haikal dan Ibra. Emak harus menunggu dengan sabar, supaya ilmu Haikal tak sia-sia.”

Emak menoleh. Airmatanya yang hampir mengering, kini kembali menggenang. Tapi sorot mata Emak kini berbeda. Sorot mata bangga.

Di hari kepulanganku, setelah selesai sholat subuh aku berpamitan pada laut. Bersama Ibrahim, aku membentangkan tanganku selebar mungkin dan berbisik. “Selamat tinggal, Lautan! Jadilah sahabat yang baik untuk semua orang yang ada di sini dan tunggulah aku pulang.”

Tak seperti kepergianku sebelumnya, kali ini Bapak yang berat melepasku. Berkali-kali saat mengantarkanku ke terminal bus, dia menghela nafas berat. Tapi, akhirnya aku pergi juga. Dengan perasaan yang jauh berbeda. Kali ini entah mengapa, ada sesuatu yang kosong terasa begitu menyakitkan saat melihat sosok Bapak yang menjauh dari pandangan.

Setahun berlalu. Ternyata rencanaku tak semuanya berjalan lancar. Aku memutuskan untuk membuka usaha di Jakarta. Aku lelah berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga lain, dari satu rumah ke rumah yang lain. Namun ternyata, keputusan itu cukup tepat. Penghasilanku semakin hari semakin meningkat, meski terkadang ada saat-saat yang sepi namun kini aku bisa mengontrak rumah dengan lebih layak. Bapak pun pernah datang sekali ke Jakarta untuk menengok. Saat itulah aku meminta membawa sebagian kecil tabungan untuk memperbaiki rumah kami menjadi rumah dengan lantai keramik dan dinding batu seperti yang diimpikan Haikal selama ini.

Aku mengabarkan pada keluargaku kalau aku akan pulang. Kali ini aku naik pesawat. Tak lagi menyusuri jalanan nan rumit Pulau Sumatera, tapi memakai kendaraan cepat. Kuceritakan dengan bangga pada orangtuaku melalui surat. Dalam surat juga kusebutkan kalau sekarang aku bisa membelikan mereka telepon genggam. Suatu hari nanti takkan perlu lagi kami berkirim surat.

Dan aku melupakan sang Ombak…

Bersambung....
Read More

Wednesday, 15 February 2012

Ta'aruf (2-tamat)


Cerita Sebelumnya : Ta'aruf

Seminggu setelah pertemuan di rumahku, Ramadhan mengundangku dan Ayah melalui sms. Tiga lembar tiket dikirimkannya melalui kurir karena Ramadhan sudah berada di kotanya sejak beberapa hari lalu.

Sulit rasanya tak mengindahkan rasa rindu yang membuncah saat kami bertemu di kota kelahiran Ramadhan, ia datang menjemputku dan kedua orangtuaku di bandara Sepinggan. Penuh rasa hormat disalaminya Ayahku, dan mengangguk hormat pada Ibuku. Sekejap sorot pandang sayang dilemparkannya dalam tatapan, membuat hatiku terasa bagai melayang.Pertemuan itu ternyata tak seperti yang kubayangkan. Perumahan Pertamina tempat kakak Ramadhan tinggal bersama ibunya, telah ramai dikunjungi hampir seluruh keluarga besar Ramadhan. Satu persatu, Ramadhan memperkenalkan diriku beserta orangtua pada keluarganya. Bagai seorang putri yang disambut begitu rupa, penerimaan yang penuh rasa kasih dan sayang. Ibu Ramadhan memelukku hangat, berurai airmata seakan tak percaya atas kedatanganku.

Tak seperti pertemuan di rumah kami, kali ini aku mendapat banyak cerita tentang Ramadhan saat ia masih kecil. Kenangan-kenangan dirinya saat masih berumur balita diabadikan dalam potret diri dalam album foto keluarga, cerita kenakalannya ketika beranjak remaja dan bahkan aku tak mampu menyembunyikan tawa saat salah satu Bibi Ramadhan bercerita tentang kesukaan Ramadhan mengerjai teman-teman mengajinya di mesjid dekat rumah si Bibi dan di rumah Bibinyalah ia bersembunyi dari kejaran teman-temannya yang kesal.

Sepanjang pertemuan, semakin lama aku semakin mengenal pribadi Ramadhan. Tak cuma pernah belajar di Pesantren selama beberapa tahun, Ramadhan juga lulusan sekolah teknik. Nilainya tak begitu baik saat lulus karena saat ujian itulah bertepatan dengan meninggalnya sang Ayah. Menurut Bibi-bibinya, Ramadhan berubah banyak setelah Ibunya pun jatuh sakit, walaupun dia anak terakhir di keluarganya Ramadhan justru paling mandiri dan selalu rajin pulang menengok sang Ibu.

Sambil bercerita, salah satu kakak ipar Ramadhan memperkenalkan potret keluarga yang tak hadir. Foto Ayahnya, kedua kakaknya yang berbeda kota dan tak sempat hadir. Serta beberapa keponakannya yang lucu-lucu. Aku tersenyum dan sesekali mencuri pandang pada Ramadhan yang juga asyik mengobrol bersama Ayah.

Dan setelah mengantarku dan orangtuaku ke hotel sore itu, Ramadhan mengirimkan sms langsung ke nomorku.

Jika Allah memberi saya kesempatan, saya ingin berbakti pada Ibu, mencintai istriku dan mengasihi putri-putriku kelak.

Lama aku termangu. merenungi maksudnya mengirimiku kata-kata itu. Lalu berbisik Bismillah kubalas smsnya,

Bagi saya menikah bukan hanya mendapatkan suami, tapi mendapatkan keluarga baru termasuk bertambah Ibu dan bertambah Ayah. Jika baktimu itu suci, biarkanlah saya menjadi bagian dari kesempatan itu.

Handphoneku diam membisu setelah laporan sms terkirim kuterima. Kuputuskan untuk beristirahat karena lelah. Setelah sholat Maghrib, Ramadhan kembali datang mengajak kami untuk makan malam bersama keluarga. Dan masih seperti saat kami datang, kehangatan keluarganya menyambut aku beserta orangtua.

Keesokan harinya aku pulang. Kulihat rasa segan sekelebat terbayang di mata Ramadhan saat aku berpamitan. Namun, ketika aku baru saja melewati pintu masuk menuju ruang check-in Bandara Sepinggan, bunyi sms masuk ke handponeku lagi.

Tunggulah saya, Insya Allah setelah saya menyelesaikan semua urusan di sini, saya akan datang meminangmu. Doakanlah agar maksud ini diridhoi Allah, agar semua tujuan dan impian kita bisa bersatu dalam sebuah pernikahan.

Tanganku gemetar, kutolehkan kepalaku mencari sosok Ramadhan di balik dinding kaca yang membatasi ruang. Aku melihatnya berdiri di sana, tersenyum penuh arti dan aku mengangguk berulang kali. Dua tetes airmata keharuan mengalir di pipiku.

Terima kasih ya Allah, Kau pertemukan aku dengan lelaki yang benar-benar memahami cinta seperti yang kuinginkan. Cinta yang dimulai karena Allah, dan Demi Allah pula aku menerimanya. Biarkanlah aku lebur bersama cintanya itu, Ya Allah lebur dalam kebesaran dan karunia-Mu yang begitu indah, agar aku terus mengagungkan cinta sesungguhnya padaMu. Dzat Maha Penyayang dan Maha Pemberi.


*****


Note :


Sedikit out of theme dari tema blog, saya memutuskan menyinggung masalah Ta’aruf di tanggal yang diperingati sebagian orang sebagai Hari kasih sayang, karena banyaknya permintaan akhwat yang bertanya soal pelaksanaannya.

Cerita ini dibuat agar bisa memahami perbedaan antara Ta’aruf dan Pacaran. Mohon diperhatikan bahwa ada perbedaan signifikan diantara dua kegiatan tersebut, Pada Ta’aruf selalu ada orang lain (yang merupakan muhrim pihak perempuan) selain kedua calon pasangan, dan bahasa yang digunakan pada saat mengirim sms (private time) pun menggunakan bahasa santun dan bisa ditunjukkan pada pihak muhrimnya (dipertanggungjawabkan). Walaupun diawali permintaan dari pihak wanita, namun keputusan terakhir tetap di tangan pria.

Read More

Tuesday, 14 February 2012

Ta’aruf


Dengan gelisah kutatap Ibu berkali-kali. Keinginan yang sedari tadi ingin kusampaikan mendadak menjadi beban yang ragu kulontarkan. Jemariku mulai melinting ujung kerudungku. Namun tetap saja tak mampu menghapus keraguan yang mendadak datang.

“Fit, kamu kenapa toh nduk?” tanya Ibu heran, seraya mendekatiku yang berdiri di ambang pintu.

Aku terhenyak. Tak menyangka Ibu akan bertanya padaku. “Ah oh… eh Fitri, anu bu, eh…” jawabku gugup.

Ibu tertawa kecil. “Ada apa sih? Sampai segugup itu,” kata Ibu. Ditariknya tanganku dan kamipun duduk di meja makan.

“Sekarang ceritakan apa yang mau kamu sampaikan?” tanya Ibu lembut. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Bahkan sebelum keinginan itu kusebutkan, rasa malu bertabur jengah dan bingung sudah memenuhi rongga dada.

“Bu, tahun ini umur Fitria sudah 22 tahun kan? Sebentar lagi Fitri juga selesai kuliah.” Aku melihat Ibu mengangguk.

“Hmm… sudah pantas belum kalau Fitria menikah, bu?” tanyaku perlahan. Rasa panas karena malu menjalari kedua pipiku. Kembali aku menunduk, menutupi rona merah di wajahku yang mulai terlihat.

Ibu terdiam, lalu mengangkat wajahku dengan ujung jarinya. “Tentu saja, nak. Tapi… apa sudah ada orang yang jadi pilihan hatimu?” Kuanggukkan kepalaku lagi pelan tapi penuh keyakinan.

“Dan siapa lelaki itu, putriku yang manis?” tanya Ibu lembut.

Akupun berbisik malu-malu, kusebutkan nama seorang lelaki yang belakangan ini sering datang menemui Ayah. Ramadhan, lelaki santun dari kota lain yang tak hanya berhasil mencuri perhatianku, tapi juga sebagian hatiku. Lelaki baik dengan senyum yang sopan menawan, setiap kali menyapaku dengan anggukan setengah tertunduk penuh hormat.

Ibu tersenyum padaku. Menatap penuh arti. Ini pertama kalinya sejak aku kecil, aku berani mengungkapkan isi hatiku. Ibu pasti memahami kesungguhan hatiku yang malu-malu kusampaikan.

Dan akupun menanti terus dalam kegelisahan selama beberapa hari. Suatu hari sepulang kuliah aku dibuat kaget saat melihat di ruang tamu, sosok lelaki yang memenuhi mimpiku berhari-hari duduk di sana bersama Ayah. Mereka terlibat dalam pembicaraan serius saat aku memasuki rumah.

Seperti tamu-tamu Ayah yang lain, aku langsung permisi masuk ke kamarku yang berada di belakang. Namun di dalam kamar, kulihat Ibu sudah menunggu. Wajah Ibu demikian cerah, menenangkan hatiku saat menyampaikan kalau lelaki itu menyambut ajakan ta’aruf yang kusampaikan beberapa hari yang lalu. ketika malam beranjak, saat makan bersama sekali lagi Ayah dan Ibu mengulangi rencana ta’aruf yang akan kami lakukan beberapa hari lagi.

Aku tak bisa menyembunyikan getar-getar senandung cinta mendengar persetujuan Ramadhan melalui Ayah. Dengan bahasa penuh makna pada Ayah, lelaki itupun menyampaikan keinginan yang sama. Sudah lama ia ingin sekali mengenalku lebih dekat, sayang kesibukan dan rasa minder membuatnya sungkan mengambil langkah terlebih dahulu.

Langit terasa bagai bernyanyi untukku ketika lelaki itu datang lagi bersama kakak laki-lakinya. Ketampanan begitu terlihat karena hari itu ia mengenakan pakaian yang berbeda dari busana kerja yang biasa ia kenakan saat bertemu Ayah. Aku tak bisa menyalahkan air yang sempat tumpah saat tanganku gemetar menyajikannya.

Lalu Ibu dan Ayah mengajakku duduk bersama dia dan kakaknya. Perbincangan hangat seputar diriku dan diapun terus mengalir. Kakaknya yang ternyata juga seorang dosen bercerita kalau lelaki bernama Ramadhan itu lulus lebih cepat karena ikut program akselerasi, setelah itu ia melanjutkan ke program Masternya sambil bekerja di perusahaan yang sama dengan Ayahku. Ayah mengangguk-angguk, lalu ia bertanya tentang orangtua Ramadhan.

Kudengar suara yang sedikit bergetar saat Ramadhan menjelaskan pada Ayah. Ayahnya sudah lama tiada sejak beberapa tahun silam sementara sang Ibu tak mungkin untuk datang berkenalan dengan keluarga kami karena saat ini beliau sedang sakit. Kakak Ramadhan juga terlihat murung, membuat perasaanku menjadi tak enak.

“Bolehkah nanti kami berkunjung menengok Ibu kak Ramadhan? Saya ingin sekali berkenalan dengan beliau, ” bisikku perlahan. Ayah juga menimpali setuju dan Ibu pun mengangguk.

Ramadhan spontan berkata ya padaku, dengan kegembiraan yang tak bisa ditutupinya.

Ibu dan Ayah bergantian bercerita tentang kesibukanku. Sesekali Ramadhan bertanya tentang kegiatanku lalu semakin lama pembicaraan mengalir hanya antara aku dan dia sementara Ayah dan Ibu lebih banyak mengobrol dengan kakaknya. Ramadhan menyinggung soal rencanaku di masa mendatang selain menyelesaikan kuliah. Dan dengan wajah bersemu merah, kuutarakan niatku untuk membagikan ilmu pada orang lain dengan mengajar.

“Jika kelak silaturahmi ini berlanjut, saya pasti mendukung sepenuhnya keinginan De Fitria. Kebetulan kakak ipar saya juga seorang ustadzah, mungkin dia bisa membantu de Fitri nanti kalau ingin mencari pekerjaan,” ujar Ramadhan sembari tersenyum.

Dan sepanjang malam itu, aku bersujud berterima kasih pada sang Maha Pemberi. Cinta yang disematkannya di hatiku, telah membuatku menemukan imam yang baik. Terima kasih ya Allah, terima kasih atas anugerah cinta ini. Bila Ramadhan memang lelaki yang baik dan juga mencintaiMu sepertiku, izinkanlah dia menjadi jodohku, menjadi pembimbing setiap ibadahku padaMu.

bersambung ke Taaruf
Read More

Thursday, 22 December 2011

Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (4-Tamat)


Kini aku menapaki hari yang lebih menyenangkan. Tiga keluarga baruku menghiasi hari-hariku tanpa Faizal. Setahun berlalu dengan cepat tanpa kusadari. Kesepian tak lagi kurasakan karena selalu ada yang mengisinya.Bunda dengan kebijakannya, Mama yang selalu menghujaniku dengan kasih sayang yang dulu tak pernah ia berikan, Ayah yang selalu melucu meski terkadang garing, kak Amira, Najwa, Restu dan Aisyah selalu membuatku semakin merasa berarti hari demi hari. Aku juga sering bertandang ke rumah Bunda kandungku, menjumpai sebagian saudaraku, menyempatkan diri mengenal beberapa keponakanku dan entah beberapa kali aku mengajak mereka bermain di mal ataupun taman bermain. Hidupku terasa lengkap setelah aku membuka hatiku pelan-pelan.

Suatu hari, ketika aku sedang bertandang seperti biasa ke rumah Bunda Faizal dan mengobrol asyik dengan Ayahnya. Dua telapak tangan menutupi pandanganku tiba-tiba. Hatiku bergetar hebat saat mengenali wangi parfum itu. Benarkah ini Faizal? Aku diam dan membeku. Suara itu, suara yang kurindukan dalam malam-malamku setahun ini, berbisik memintaku menebak. Aku tak berani, sungguh tak berani berharap ini adalah kenyataan. Aku terlalu takut bersuara dan membangunkanku dari mimpi.

Aku menoleh ke belakang. Dia di sana, berdiri di belakangku dengan senyum yang tak berubah. Ada bayang membiru di dagunya yang biasanya bersih, mata teduhnya yang tampak selalu tertawa, rambut hitamnya yang kini agak cepak, senyum tipis mengulas tapi dia tetap Faizal. Faizal, yang memberiku cinta, yang mencairkan hati bekuku sekarang berdiri di sana. Aku tetap diam, menggigit bibir bawahku agar airmataku tak mengalir tapi sungguh sulit sekali. Dan pecahlah tangisku ketika ia memanggilku seperti biasa, “Halo, Angelku sayang!”

Faizal menyongsong, memelukku dengan erat tanpa mempedulikan Ayah dan Bunda serta saudari-saudarinya. Ia tahu aku terlalu emosional saat itu, aku tak bisa mengendalikan apapun saat itu. Aku merindukannya, menahannya dalam-dalam dan sekarang ia hadir di sini, seperti biasa mencurahkan kasih sayangnya. Pertama kali dalam persahabatan kami, aku berbisik di sela isak tangisku, “aku kangen kamu, Zal.”

Pelukan Faizal semakin erat. Ada getar saat ia mengucapkan, “terima kasih mau menungguku begitu lama. Terima kasih Angel!” Dan kami mengakhirinya dengan saling menatap penuh kerinduan. Faizal, lelaki bermata teduh itu benar-benar datang. Ia datang setelah membiarkanku memilih. Ia tak pernah menghubungiku karena tak ingin mengikatku. Ia mencintaiku dan selalu menyimpan di hatinya sendiri. Ia memanggilku Angel, karena menganggap suatu hari aku akan belajar jadi malaikat. Paling tidak untuk diriku sendiri.

Setelah beberapa hari ia kembali, penuh semangat aku mengajaknya menemui Mama dan adik-adikku. Tanpa ragu, ia langsung menyalami mereka. Setengah menggoda, ia melamarku pada Mama. Entah apa yang mereka bicarakan waktu aku ke belakang menyajikan minuman. Di belakang aku digoda kedua adikku, sementara pikiranku berulang kali memikirkan respon Mama. Tapi ketika aku kembali, senyum di bibir Mama dan Faizal cukup membuatku tenang kembali. Dan restu Mama yang begitu tulus saat berbisik di telingaku ketika kami berpamitan melengkapi pertemuan itu. Aku menyayangimu Faizal, dan lebih mencintaimu karena kau menghormati serta menghargai Mama.

Lalu aku pun memaksanya bertemu Ayah dan Bunda kandungku. Faizal tak mengatakan apapun saat bersama mereka, malah dengan luwes seperti biasanya ia masuk dengan mudah dalam keluargaku. Sama seperti bersama Mama, iapun menyampaikan hal yang tidak kuketahui. Aku hanya pergi sebentar ke belakang mencari adik-adikku untuk kukenalkan padanya, tapi sesaat kemudian aku melihat pandangan lain di mata Ayah dan Bunda. Pandangan penuh rasa syukur karena aku bisa bertemu Faizal, pandangan penuh cinta dan terima kasih karena aku tetap melibatkan mereka dalam hubungan emosional dengan lelaki lain.

Faizal telah menunjukkan dengan menghormati dua keluargaku tanpa sedikitpun menyinggung masa lalu. Nilainya terus bertambah tanpa aku sendiri mampu menghentikannya. Akupun meyakini kenyataan, aku jatuh cinta pada sahabat dekatku sendiri. Tapi sungguh tak mudah bagiku mengungkapkannya pada Faizal. Biarlah, biarlah rahasia itu berdiam di sudut hatiku tanpa ada siapapun yang tahu. Aku bahagia mendampinginya sebagai sahabat dan biarlah tetap seperti itu.

Lalu akhirnya muncullah pertanyaan dari Faizal. Kenapa aku begitu berubah? Sulastri alias Angel telah berubah. Dia bukan lagi Angel yang dulu, tapi kini dia adalah Sulastri yang seorang Angel. Aku tertawa dan bertanya, jika itu berarti tidak baik apakah itu artinya Faizal akan pergi lagi. Dan dia menjawab, “kalau ini berarti jauh lebih baik, maukah Angel menemani Faizal pergi kali ini?”

Aku terpaku, tatapan Faizal berubah serius. Aku menunduk dan menjawab, “seseorang mengajariku cara memberi cinta, dan aku justru belajar banyak setelah kehilangan cinta itu. Jika suatu hari orang itu datang padaku, aku bersedia memberi cinta yang tak sempat kuberikan padanya selama ini. Dan aku bersedia menerima cintamu, Faizal.” Dan iapun menggenggam erat jemariku, mengangguk dan dalam mata teduhnya kali ini aku melihat masa depan penuh cinta yang indah. Bawalah aku bersamamu, Zal dan kita akan bersama dalam keindahan cinta. Terima kasih telah mengajariku cinta, belajar memahami dan memberi cinta. Ajari aku cinta yang lebih banyak dan lebih besar, Zal. Ajari aku caranya dan biarkan aku membalasnya pada orang-orang yang kucintai terutama dirimu.



T A M A T
Note :
Menulis ini saat menunggu saat-saat tak pasti, enam jam lebih untuk operasi kanker yang dijalankan Mama.
Kupersembahkan di hari Ibu, sebagai tanda mata buat Mama, wanita kuat yang memberiku banyak inspirasi.
Read More

Wednesday, 21 December 2011

Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (3)


Aku belajar dari Ayah Faizal kalau cinta adalah memaafkan. Dengan memaafkan, kita belajar mencintai jauh lebih baik. Maaf membuka hati lebih luas dan cinta akan datang dengan mudah.
Dari kak Amira, kakak Faizal aku mempelajari ketulusan cinta. Cinta yang tulus yang kulihat saat ia mendidik putra-putranya. Pertama kali juga aku tahu kalau ketulusan bisa diperlihatkan melalui kemarahan.  Sekali kulihat kak Amira marah pada putranya tapi bukan jenis kemarahan yang sama saat aku kecil dulu, kemarahan di mata kak Amira terkendali dan teramat singkat tapi efeknya jauh lebih dahsyat. Putranya meminta maaf dengan penyesalan sebelum akhirnya kak Amira memeluknya dengan hangat. Hatiku tersentuh melihat cara kak Amira itu.
Read More

Tuesday, 20 December 2011

Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (2)


Sekali lagi Faizal selalu bisa memberiku semangat baru. Dengan humornya, ia menanggapi respon negatif tentang hasil kerjaku melalui pandangan positif. Tak ada yang tidak benar menurutnya, hanya terkadang perbedaan pandangan antara profesional dan awam sulit ditemukan. Hal yang paling penting bagiku, ia selalu bisa membuatku menghela nafas lega dan bersemangat menjalani pekerjaanku lagi.

Faizal pernah memberiku kejutan. Kejutan yang tak dapat kuduga dan membuatku sulit bernafas. Aku kehilangan kata-kata. Ia membawaku ke sebuah rumah kecil, namun indah dan asri. Tanpa sempat bertanya, ia mengajakku masuk, menemui seorang ibu dengan penuh senyuman dan seorang ayah berwajah ramah yang mirip Faizal. Ia merangkulku dengan hangat dan berkata pada mereka, “Kenalkan ini Sulastri, bunda. Aku memanggilnya Angel. Ini sahabat terbaikku, Ayah.”
Read More

Monday, 19 December 2011

Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta!


Buatku Faizal hanyalah sahabat, buatku dia hanyalah satu dari sekian banyak lelaki yang menawarkan berbagai keindahan tapi aku yakin suatu hari nanti dia akan kembali pada apa yang kusebut dengan sisi hewaninya.
Cinta adalah sesuatu yang terlalu indah dan hanyalah khayalan dengan mata terbuka yang cengeng. Aku belajar bertahun-tahun tentang cinta dan belajar untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Satu cinta paling indah di dunia, kasih sayang hakiki dari janji surga pun tak dapat kuraih. Cinta Ibu yang begitu besar pada Ayah, membuatnya bahkan rela menjualku saat bayi pada orang lain.
Read More

© Ruang Cerita, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena